Senin, Januari 06, 2014

Ada-ada Saja

Sepertinya, sejak gue brojol ke dunia ini, dalam darah gue sudah mengalir darah ke absurd-an, yang entah diwariskan dari siapa (lha?).

Sejak TK sampai menamatkan SD, gue tinggal di kampung. Jadi, masa imut-imut dan putih merah-merah, gue habiskan di kampung halaman Mama. Sekarang, rasanya gue bersyukur dibesarkan di kampung. Setidaknya pengalaman masa kecil gue, terasa menyenangkan. Hari-hari gue tidak habis di depan TV atau layar gadget yang serba canggih.

Kali ini, gue mau menceritakan tingkah gue. Diharapkan jangan sampai muntah dan telinga berdarah-darah, ya..hehe

Di kampung gue, selain penduduknya bertani, mereka juga berternak. Berternak Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, dan tuyul. Hal yang enggak banget di kampung adalah, Sapi dan Kerbau suka pup sembarangan di jalan. Padahal, setiap hari gue udah negur dan nasehatin Sapi dan Kerbau, jangan pup sembarangan. Udah pup sembarangan, gak pake disiram lagi. Super kebangetan banget, kan? Gak mungkin kan, gue yang beresin tai nya. Kadang, kalau gue jalan gak pake mata, tai yang bertebaran di jalan suka terinjak oleh kaki gue yang mulus ini. Gue jadi kepikiran untuk memakaikan mereka popok bayi, biar tai nya gak berserakan dimana-mana.

Namun gue tak terlalu mempermasahkan, namanya juga binatang. Harap dimaklumi. Jadi yang suka pup dan pipis, itu tandanya sama dengan.....  
(silahkan jawab sendiri). Hehe

Melihat tai sapi dan kerbau yang bertaburan...eh..bertebaran di jalan. Ide gue muncul, untuk memanfaatkan berak sapi dijadikan sebuah karya seni. Selain gue punya air seni, gue juga punya jiwa seni yang harus disalurkan biar tidak tertelan siluman eh..jaman.

Sehabis pulang sekolah, biasanya gue janjian ama teman-teman untuk main bersama. Kalau udah ngumpul. Ada-ada aja kerjanya. Salah satunya, menghias tai sapi dan kerbau. Tai mereka berbentuk bundar mirip bakpao, lembek dan berwarna hitam kehijau-hijauan, pokoknya gitu deh, yang pernah liat, pasti kebayang kok. Hihihi. Binggung juga, jelasinnya. Cukup bayangin aja. Hahaha.


Setelah memilih tai yang oke untuk dijadikan sample, gue bareng teman-teman mulai menghias. Diatas permukaannya, kita beri batu bulat, tuk menandakan kedua mata, dan batu agak sedikit lonjong untuk hidungnya, tak lupa disusun batu-batu kecil membentuk bibir. Ini belum selesai Sob..! tak lupa, kita mengambil bunga dan dedaunan untuk aksesoris, biar makin keren. Selain membentuk wajah, kita juga membentuk kue. Kereaktif, kan kita?? TIDAAAKKK...itu namanya kurang kerjaan..

Minggu, Januari 05, 2014

Yura Mendadak Hilang

Namanya juga anak kecil, pasti ada aja tingkahnya. Termasuk gue. Iya gue. Siapa lagi..anak Mama paling absurd gitu lhoo..-_____- *gitu aja bangga*.
Karena ulah gue yang suka berbeda dengan anak-anak lainnya. Karena itu, gue berhasil bikin sekeluarga panik. Maaf ya Ma..

Jadi, ceritanya begini. Entah ada jin apa yang merasuki tubuh gue yang keren ini. Sehabis mandi sore, gue ketiduran. Mungkin karena kecapekan habis mandiin gajah Thailand.

Tau gak gue ketiduran dimana? Gue ketiduran di bahu personil One Direction. Sumfeeh..gue ngarang habis. *disorakkin fans OneDirection*. Gue ketiduran dibawah meja makan. Jelas banget gembelnya gue, ya? Huhuhu.

Berhubung, gue orangnya kreatif dan kereaktif. Gue mencoba mencari sensasi tuk tidur di bawah meja makan. Meja makan ini jarang dipakai, kalau ada tamu yang berkunjung ke rumah, baru deh dipakai.

Karena badan gue yang kurus begini mirip tiang listrik, jadi gue bisa masuk kebawah sana. Posisi gue tidur sebenarnya diatas kursi. Gue masuk kedalam kursi yang disorongkan ke dalam bawah meja. Jadi gue masuk dan tidur disana. Karena tubuh gue sepanjang meja. Jadi gak keliatan, ditambah lagi ketutupan ama taplak meja.

Karena gue belum ada juga nampak di rumah, padahal udah maghrib. Orang rumah pada panik nyariin gue. Sampai-sampai Mama nyanyii lagu ayu udah gak tingting, kemana..kemana.. hilangnya..si Yura?. Emang lagu itu, sudah muncul, Yura? Belumm tante...-_-

Orang rumah berbagi tugas. Ada yang nyari ke setiap kamar sampai kolong tempat tidur. Ada yang nyari ke setiap sudut rumah, bahkan Papa sampai nyari ke rumah teman-teman main gue. Ada yang nyari ke lubang tikus, kali aja gue nyasar kesana.

Syukur gak sampai dilaporkan ke polisi, kan jadi ribet. Nanti saya masuk sel tahanan, karena membuat orang rumah panik. Ampuunnn Ma...
Karena, suara ribut-ribut di dalam rumah. Sehingga membuat gue, terbangun dari tidur. Rencananya, gue akan bangun, kalau udah dicium ama pangeran berkuda poni.

Kebetulan juga, Papa menyenter di bawah kolong. Akhirnya, gue ditemukan juga. Dibawah meja dengan cantik mempesona *hueek*.. Horraiii..selamat Papa dapat hadiah payung, tangkainya doank..(eh?).
Seisi rumah pada heboh. Udah capek nyari sana-sini, ternyata gue dibawah kolong meja. Ondeh Mandeh..Hampir saja, gue dikutuk jadi malin kundang part 2.



Sabtu, Januari 04, 2014

Aliran Sesat, Tidak Untuk DITIRU

Waktu gue masih jadi janin dalam perut Enyak, gue sudah mulai diajarin shalat. Hebat kan gue? Siapa dulu pacarnya..lha??

Saat gue sudah memakai rok merah, shalat gue suka bolong-bolong kayak kambing ompong. Maklumlah, gue kan masih belajar *Pembelaan*. Subuh shalat, Zuhur enggak, Ashar lewat, Maghrib shalat, Isya ketiduran.hehe..jangan ditiru ya teman-temanss..

Kali ini gue menceritakan kejadian beberapa abad yang silam. Wah..jaman kapan itu, Yur? Jaman Dinosaurus masih bayi. Kembali ke masalah shalat. Ketika bulan Ramadhan dan sebagai muslim gue ikutan berpuasa. Sampai zuhur gue udah berbuka duluan.hehe. Ituuu kan DULUUU..sekarang udah enggak kok.

Kalau mau berpuasa esok harinya, gue harus ikutan sahur. Bangun untuk sahur itu, butuh perjuangan berat seberat mengangkat alat-alat berat. Membuka mata yang tertutup rapat beratnya minta ampun, berasa ada seekor gajah duduk cantik di kelopak mata gue. Sahur udah, shalat subuhnya belum. Sehabis sahur menunggu waktu subuh itu, lumayan menggoda untuk melanjutkan tidur yang tertunda. Setan menggoda dan merayu gue untuk tidur, karena gue ngantuk, gue tidur. Kata Mama gue, kalau ngantuk tidur, kalau lapar makan, kalau haus minum bensin PLISSS..jangan diikuti kalimat terakhir..BAHAYAAA SOB..!!

Karena mengikuti rayuan pulau kelapa *masak pohon kelapa, lu jadikan kambing hitam sih, Yur..? Habis, kalau jadiin gue, gue udah hitam dari oroknya*.

Efeknya, gue suka kebablasan dan hasilnya shalat subuh gue kelewatan. Ya Alloh, Maafkan Baim ya Alloh..Walaupun sudah berpesan pada Enyak untuk bangunin gue. Tetap gak mempan. Kayaknya gue digoda ama eyangnya setan deh! Makanya gue gak mempan dibangunin. Alasannya bentar lagi..bentar lagi..ujungnya molor sampai pagi. Hihihi.

Daripada gue bohong sama Enyak, kalau ditanya udah shalat subuh apa belum. Enyak, adalah orang yang paling susah dibohongi. Selalu saja beliau tau apa yang gue sembunyikan. Kayaknya, Enyak gue punya Indra L Brugman deh..eh salah..lidah gue keseleo..Indra keenam maksudnya..*Nyegir kambing*.

Karena gue tau, bohong itu tidak baik. Untuk mensiasati agar gue tidak berbohong. Jadi, kalau ditanya enyak, gue tinggal bilang "UDAH DONK MA..". Setelah gue semedi di bawah batang toge, gue menemukan ajaran sesat. Jika waktu zuhur sudah masuk, sebelum shalat zuhur, gue shalat subuh 2 rakaat terlebih dahulu atau gue shalat zuhur dulu baru shalat subuh. Keren kan gue? *kaca mana kaca*. Gue shalat seenak jidat tetangga. Syukur gak gue rapellin shalat 5 waktu dalam satu waktu. Ya Alloh, bimbinglah aku..

Maklum gue masih anak SD yang lucu, imut dan menggemaskan *hueekk*, baru mencicip asam garam kehidupan. Jadi, harus banyak belajar dan belajar.
Setelah gue belajar Agama tentang shalat jamak, baru gue mengerti. Shalat subuh tidak bisa digabungkan dalam satu waktu dengan shalat zuhur. Jangan dicontoh, ya adik-adik.. diseluruh Indonesia..nanti, gue didemo F*I.

Tak mengapa kita melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, dengan itu membuat kita belajar dan tidak mengulanginya lagi. Salam super mie..*lambaikan tangan ke kamera*




Jumat, Januari 03, 2014

Awas Ada CABEEE...

Sebagai orang Padang asli, asli banget dan bukan KW-KW-an. Orang Padang biasanya identik dengan makanan yang pedas-pedas. Itu gak berlaku buat gue. Gue gagal menjadi orang Padang, karena bener-bener takut sama makanan pedas * Mama pulang gue ke Eropa..*. Tapi itu dulu, waktu gue masih unyu-unyu dan bau..(eeh?).

Mama dibikin sedikit repot karena gue. hehe. Maaf ya Ma.. Di rumah aja, Mama harus memisahkan makanan yang gak ada satupun yang berhubungan dengan cabe. Jadi, di rumah ada dua piring makanan yang bercampur sama cabe dan gak bercampur dengan cabe.

Jika berkunjung ke rumah tante atau menginap di rumah saudara, Mama selalu berpesan untuk memisahkan makanannya, biar gue bisa makan. Sampai kelas 6 SD, gue masih takut sama cabe. Kadang Mama berusaha membujuk gue untuk sedikit-sedikit makan pake cabe. Kata Mama, kalau makan sama cabe bikin kita kuat. Tetap aja gue gak percaya. Setiap hari gue kuat juga kok, kuat tidurnya.

Karena anti banget dengan cabe, sampai-sampai langganan sate Mama, tau kalau gue takut sama cabe. Jadi, kalau Mama udah ngajak gue makan sate. Gak perlu dikasih tau lagi, kalau gue ikut makan, pasti kuah satenya sedikit sekali. Mama kadang suka nanya
“emang gimana rasanya makan gak pake cabe?”
“gak gimana-gimana kok, Ma..enak kok..”
 Gue lanjut menyantap makanan, dan Mama hanya bisa geleng-geleng kepala.


Sedikit aja nasi gue bercampur dengan segala sesuatu yang ada unsur cabe didalamnya. Gue langsung mengganti nasinya. Parahnya lagi, kalau makan rendang, dagingnya gue cuci. Hehe. Tak heran, jika makanan favorit gue waktu kecil, nasi sama kecap manis dan nasi dicampur garam. Tak salah lagi, makanya gue jadi ikutan manis sampai sekarang. APAAAAA?? *Muntah beling*

Kalau di think-think sambil guling-guling diatas beling, kepala gue langsung muncul tanda-tanya besar. Kenapa, ya..? gue sebegitu takutnya sama cabe. Padahal cabe kan, gak ngapa-ngapain gue, gak pernah ngecewain gue (lhaa??). Malah cabe bisa menambah citarasa makanan *alaah..gue ngomong apa ini? Kayak pengamat kuliner aja*.

Beda banget sama gue yang sekarang, waktu kecil sebegitu anti dan menjaga jarak dengan yang namanya cabe. Sekarang, gue gak bisa hidup tanpa cabe. Kalau makan gak ada cabenya, hidup gue terasa hampa #Tsaah. Dan gue ikutan stress kalau harga cabe melambung tinggi di pasaran. Pak dan Ibuk Menteri, jangan naikkan harga cabe, ya..Karena separuh akuu..dirimuu...CABEEE...*eh salah lirik*.

Kamis, Januari 02, 2014

Lempar Dakuw, Kau Kugigit

Kalau menceritakan masa kecil, gue jadi senyum-senyum sendiri kayak orang habis menang togel berjeti-jeti. Berhubung gue termasuk tipe anak cewek yang gak bisa diam, cuma di WC aja gue bisa diam dan kalem kayak lembu (eh?).

Waktu gue kecil *emang lu pernah kecil juga, ya Yura?* sehari saja gak bermain bersama teman-teman itu, rasanya kebahagiaan gue sebagai anak-anak kurang afdol, ibarat makan sayur tanpa sayur *mulai gila*.

Ya sih, gue harus pandai-pandai mengatur jadwal main dan tugas jagain adek. Maklum Mama ngajar, jadi sebelum Mama pulang, gue mendadak berganti profesi menjadi baby sitter ngesot. Dan parahnya lagi, kalau Mama sibuk, gue main ama teman-teman sekalian ngajak adik, kadang adek gue bawaanya pengen nempel terus kayak perangko, jadi gue kapan mainnya coba? *garuk2 panci*.

Mari sejenak kita lupakan cerita di atas *atas mana, yura? Atas Monas!*.
Kembali ke es tong-tong.

jadi pada suatu hari yang cerah. Gue dan sepupu gue Aril (nama samaran) bingung mau ngapain, muter-muter kampung udah, manjat pohon jambu udah, manjat tiang listrik aja yang belum. Berhubung jadwal pulang belum masuk dan kita bingung mau ngapain.

Rencana mau godain preman kampung sebelah, tapi gue takut..takut mereka tergoda melihat pesona gue *baskom mana baskom*. Gue berinisiatif ngajak aril ke rumah main boneka (eeehh?).

Saat melewati pohon duit Sirsak. Diatas pohon itu kita melihat ada sarang tawon yang bergelantung dengan indah. Berhubung gak ada kerjaan, padahal sudah melamar pekerjaan sana-sini, tapi belum ada juga perusahaan yang menerima kita. Emang lu bisa apa, Yura? Bisa membuatmu cinta padaku..eaa..*disorakkin warga sekampung*

Karena jiwa gue ada bakat menjadi atlit lempar upil, maka gue mengambil batu dan mencoba kebolehan gue membidik sarang tawon bersama aril. Kita bergantian saling melempar batu. Lemparan kita banyak meleset, satu dua lemparan mengenai sarang, si tawon masih adem ayem dan belum menunjukkan perlawan. Kayaknya si tawon lagi maskeran, deh! Makanya, mereka belum melawan.

 Ternyata kesabaran si tawon ada batasnya juga,Tak disangka tak diduga, si tawon pun keluar dengan jurus membabi buta tanpa ampun DJ . Kita mencoba menutupi muka dan melindungi diri.
 Tapi percuma saja Sob! si tawon berhasil mencium kepala gue, sebagai bentuk kasih sayangnya. Ondeh mandeh..sakit Mak..huhuhu

 Efeknya, kepala gue menjadi benjol seketika. Sepupu gue juga dapat jatah ciuman,tapi gue lupa dicium disebelah mana. Ya udah, lupakan saja. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita cari pacar baru (lha??).

Sejak itu gue gak mau mengusik apapun. Kejadian itu membuat gue belajar, kalau gak mau diganggu jangan ganggu, nanti kena tinju sama personil Suju.

Buat saudara-saudara gue sebangsa setanah air, dimana pun kalian berada. Jangan contoh perilaku aneh gue kalau gak mau kena batunya. Bener  kata pepatah, apa yang dituai itu yang dipetik. Jadi, kalau mau mendapatkan hasil yang baik, mari kita semai benih kebaikan juga.

Salam kuperrr…*lambaikan tangan ke kamera*

Rabu, Januari 01, 2014

Air atau Minyak Tanah

Saat salah satu Tweet dari Bang Soyid melintas di timeline, seketika itu membuat gue tertarik becak untuk mecoba tantangan menuliskan cerita kebodohan masa kecil. Mungkin karena urat malu gue sudah putus, makanya tertarik menceritakan aib sendiri. Hasemeleh. Sebenarnya, waktu kecil gue pinter pakai banget, menurut tetangga gue lho.. (semoga gak ada yang percaya). 
Ditambah lagi kondisi blog gue, selama tahun 2013 sering dianggurin, saking sering dianggurin blog jadi banyak ditumbuhi rumput yang bergoyang caisar dan semak belukar. semoga dengan mengikuti proyek menulis 30 hari ini, bisa membuat gue lebih konsiten menulis. Doakan gue ya permirsa..*lambaikan tangan ke kamera*.

Mencoba membuka dan mengobrak-abrik memori waktu kecil tak semudah ngupil pakai jari kelingking. Ternyata bener-bener menguras bak mandi. Jadi, gue mencoba memulai mengingat dan menceritakan hal-hal kecil yang dialami yang tidak terlalu menguras otak. Apakah ini termasuk kategori cerita bodoh atau enggak, gue juga gak tau, yang penting ikutan..maksa banget, ya?? hehe..Cekidot..Selamat makan..

Ceritanya begini *benerin jilbab dan pakai maskara*, Saat gue masih unyu-unyu dan menggemaskan kayak peti kemas, waktu gue masih kecil, Mama mengontrak sebuah rumah yang bertepat di sebelah sekolahnya bersama dengan seorang temannya yang sudah berkeluarga juga. Kebetulan dapur kita satu atap. Jadi, kita saling mengetahui, kita masak apa dan makan ama siapa (eh?).

Entah karena gue saking pintar dan rajinnya, melihat kelapa yang sudah diparut di dalam baskom kecil milik teman Mama, tiba-tiba gue langsung menyiramkan minyak tanah ke dalam parutan kelapa yang sudah siap untuk diperas dan diambil santannya. 
Seharusnya, bukan minyak tanah yang dicampur, tapi air. Mungkin karena saat itu minyak tanah masih murah, jadi gue mencoba bereksperimen mencampurkan minyak tanah ke dalam parutan kelapa. Kira-kira gimana, ya..?? gulai rasa minyak tanah. Penasaran? Silahkan coba sendiri..!! :D

Demi menciptakan kerukunan antar tetangga, karena ulah gue, Mama terpaksa mengganti sebuah kepala eh salah..kelapa kepada temannya. Ini ceritaku mana ceritamu?? *nyegir kuda*

Minggu, Desember 22, 2013

Lain Gunung, Lain Ceritanya

Setiap gunung yang didaki, plus bikin badan banyak daki, selalu ada saja cerita yang berbeda yang bikin saya ketawa-ketiwi sendiri. Idih..Yura gila ya, sekarang??

Saya mulai tertarik dan diajarkan plus diracuni mendaki gunung, sekitar tahun 2009. Itu karena dekat ama teman yang anggota Mapala di kampus saya. Kalau saat itu saya dekat dan mainnya ama Nikita Willy, bisa jadi saya sekarang sudah aktris kejar tayang dalam sinetron sandal jepit yang tertukar. Kalau saja saya dekat ama annisa chibi, bisa jadi sekarang saya sudah jadi member AKB48 *eh?* (Yura mulai ngawur..Yura mulai ngawur..)
Namanya juga jalan-jalan ke gunung, jadi banyak hal tak terduga yang bisa terjadi diluar kendali kita.

Waktu pendakian pertama, saya dengan teman-teman yang lainnya mencoba mendaki gunung Marapi. Hal yang tak terlupakan buat saya, ketika saya dan Mia berdua dalam satu sleeping bag. Saat itu, teman saya Hendra, lupa membawa sleeping bag, dan kita takut hendra kedinginan dan bisa-bisa ia kena hipotermia. Saat itu lah kepedulian kita teruji. Apa kita tega melihat teman seperjuangan dan teman sama-sama mendaki dari bawah, merasa kedinginan. Berhubung, badan saya kerempeng kayak tangkai sapu, dan Mia badannya imut kayak marmut (piss mia \/). Jadi, kita memutuskan untuk satu berdua dalam sleeping bag. Ternyata perjuangan masuk ke dalam sleeping bag bener-bener ruaarrr biasaaa. Walaupun badan kita sama-sama imut, tetapi tak semudah itu untuk menutup resleting. Jika sobat pernah berusaha menutup reseleting tas yang isinya sudah sangat padat sekali, seperti itulah perjuangan Hendra untuk menutup resleting sleeping bag kita. Karena saking romantisnya saya dengan Mia ( romantis apa kesempitan tu jeng?), ujung-ujungnya kita kepanasan kayak jagung rebus. Kepanasan cyiinn...AC mana AC..

Kita tinggalin cerita diatas, lain lagi ceritanya waktu saya mendaki Gunung Singgalang. Penasaran ya? Sama, saya juga penasaran. Saya harus mencoba minum air putih yang dicampur dengan minyak kayu putih. Kebayang gak gimana rasanya?? Kalau penasaran coba aja..hehe. Saat itu, Bang Anto tengah malam sakit mual-mual plus muntah-muntah. Padahal ia kelihatan baik-baik saja dari awal dan semangat kali pas nanjak. Bukan kayak saya, yang keseringan kecapekan. Kebetulan, cewek yang ikut hanya ada saya dan Kak Yandhi, jadi kita harus rela bangun tengah malam untuk memasak air panas. Ngeliat Bang Anto mirip bumil yang terus mual-mual, saya sudah rela kalau gagal ke puncak untuk besok paginya. Hikss. Tapi, saya masih berharap bisa muncak besok pagi.hehe. 

Daripada mual-mual terus, Kak Yandhi menyarankan mencoba minum air yang dicampur sama minyak kayu putih. Apaa??. Berdasarkan pengalaman Kak Yandhi, ini pernah dilakukannya dan tidak ada efek samping. Kita pun berusaha membujuk Bang Anto untuk minum air ramuan ala Kak Yandhi. Bang Anto menolak. Kita kan takut Bang anto kenapa-kenapa, di atas gunung ini gak ada klinik bersalin ( emang ente mau ngapain, Yura??). Untuk meyakinkan Bang Anto, terpaksa kita bergilir mencoba meminum air kayu putih. Ondeh mandeh. Jauh-jauh ke gunung hanya untuk minum seteguk air berasa minyak kayu putih. Sedikit lebih baik, sih, daripada minum air sambil terbayang wajah mantan. Nah lho?? ( Mantan majikan, ya, Yura?)

Setelah, kita berdua meminum air tersebut dan tidak kejang-kejang, baru lah Bang Anto mau meminum air tersebut. Oalaah..buat anak kok coba-coba. Keesokan paginya, Bang Anto sudah oke lagi, akhrinya kita bisa muncak juga..Horraiii...
(Yang mau coba ramuan ini, silahkan, harus dibawah bimbingan orang tua, ya..)

Marapi udah, singgalang juga udah. Lain lagi cerita waktu ke Gunung Kerinci. Padahal tenda ada 3 buah dan sudah dibagi-bagi tiap tenda 3 orang. Karena badainya yang super dahsyat. Kita langsung menyerbu tenda Bang Jamie. Tenda yang isi maksimalnya 5 orang, dimuat-muatin jadi 6 orang. Kalau orangnya mirip kurcaci bisa muat kurcaci sekampung.

Dalam tenda berasa mirip ikan sarden. Bergerak aja susah, apalagi salto dan guling-guling. (Helloo..kalau mau guling pindah aja ke lapangan bola Neng!!).
Ya begitu lah kalau naik gunung, ada-ada saja hal yang membuat perjalanan makin berkesan dan tak terlupakan.Tsaah.

Kalau begitu, nanjak kemana lagi kita ne?? ;)


Sabtu, Desember 14, 2013

Yang Sabar Ya..

Saat diberitahu oleh teman saya, sebut saja namanya Bunga.  Bunga adalah teman saya waktu masih pakai putih abu-abu beberapa tahun yang silam. Pernah jadi teman sekelas, teman sekamar dan satu kosan. Saya sudah berapa kali main ke rumahnya dan sudah mengenal anggota keluarganya. Beberapa lama kita kehilangan kontak, sebenarnya salah saya juga sengaja menghilangkan diri dari orang-orang terdekat. Hehehe. Tapi, saya masih menyimpan nomor kontaknya. Rasanya, tak perlu lah saya beritahu alasannya. Hahaha *bikin penasaran*.

Beberapa bulan yang lalu, saya mencoba menghubunginya. Bunga merasa senang sekali bisa berhubungan lagi dengan saya. Bahkan Ia juga berusaha menanyakan nomor hape saya kepada teman yang lainnya. Oh My Woow..ternyata ada juga orang-orang yang merindukan dan mencari-cari saya, ya? Kirain cuma Densus 88 aja yang nyarin saya..lha? emang situ teroris ya, Yura? (kasih tau isi gak, ya?).

Sekitar 2 minggu yang lalu, menghubungi saya dan menceritakan kalau Mama nya mendadak terkena kanker payudara. Saat itu bunga memberitahu sms, saya berasa kesentrum kena tegang listrik tegangan tinggi yang membuat saya terdiam, gak tau apa yang mau dibalas.

Terbayang beberapa tahun yang lalu saat mampir ke rumahnya, Mamanya dengan tubuh sehat, tinggi dan semangat bekerja. Tak menyangka, akan mengalami hal ini. Ternyata bukan saya saja yang terkejut mendengarnya, mereka sekeluarga juga terkejut dan tidak menyangka. Selama ini, Mama bunga menutupi dan tidak memberitahu benjolan yang terdapat Payudaranya, saat benjolan itu menimbulkan rasa sakit, baru beliau memberitahu anak-anaknya. Setelah dicek ke dokter, ternyata positif kena kanker payudara. Hiks


Terdiam cukup lama, entah kenapa saya terlalu berat menuliskan “Yang sabar ya Bunga..”. Rasanya, tak semudah itu saya menuliskan sabar. Kata sabar itu memang gampang menuliskannya, tetapi kenyataannya sabar itu bener-bener berat dijalani. Saya mencoba kembalikan pada diri saya sendiri? Apa saya bisa dengan mudah bersabar saat Mama saya yang mengalami hal itu?. Hikshiks

Saya mencoba menguatkan Bunga, dengan membalas pesannya “ Berdoa yang banyak, semoga sekeluarga diberi kekuatan tuk menghadapi dan Mama diberi kesembuhan oleh Allah SWT”. Semoga dengan doa yang terus dipanjatkan kepada sang pencipta, mereka sekeluarga diberi kekuatan dan kesabaran menjalani semua ini. Bukankah kita, sebagai manusia menjadi shalat dan sabar sebagai penolong.

                                                                                                Ùˆَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ ÙˆَالصَّÙ„َاةِ
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al Baqarah: 45)

Bunga merasa hidupnya sekarang ini terasa berat dan tak menyangka ini akan terjadi kepada keluarganya. Sebagai manusia, saya hanya bisa menguatkan, bahwa semua yang terjadi karena kehendak yang kuasa. Walaupun begitu, Bunga masih berfikir, Tuhan pasti punya rencana baik untuk ia dan sekeluarga.

Semoga apapun yang kita alami, kita bisa mengambil sisi baik disetiap kejadian yang ada.