Kamis, April 06, 2023

Syukur(in)

Sudah lama tak bertukar kabar dengan seseorang nun jauh di mata dekat di sosial media, saya pun mencoba menghubunginya.

 Saya mendapatkan kabar yang tak ingin saya dengarkan. Ya, manusia memang gitu lah ya, selalu siap mendengarkan yang menyenangkan hati saja. Padahal kita harus siap mendengarkan hal yang menyesakan hati juga. Hikshiks

Ia memberitahu bahwa Ibunya sakit yang cukup parah. Mendengar kabar tersebut membuat hening sejenak sambil mencerna apa yang ia katakan.

Seketika itu juga teringat Mama di rumah. Terucap syukur dalam hati bahwa saya dikarunia Mama yang masih sehat (alhamdulillah).

Setelah menyelesaikan percakapan panjang. Saya memilih diam lebih lama dan bengong, serta mempertanyakan rasa syukur yang dipanjatkan.

Kenapa saya bisa-bisanya mengucapkan syukur saat ada seseorang yang diberi ujian yang tak mengenakkan hati? 

Kenapa syukur saya lahir dari perbandingan dengan keadaan orang lain yang tak lebih baik dari saya? 

Bagaimana jika masalah yang dihadapinya saat ini menjadikan ia manusia yang lebih baik dan disayang Allah? 

Masih banyak "bagaimana" yang bergelayut di kepala.

Hingga pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa rasa syukur yang baik itu tidak lahir dari hasil membandingkan kesusahan seseorang yang tampaknya tak lebih baik dari kita. Bisa jadi hal yang sulit dihadapinya hari ini, menjadi kesyukuran dikemudian hari. Tak ada yang tahu, manusia yang suka sok tahu (tempe)

Sejak saat itu, rasa syukur saya perbaiki. menjadi lebih sederhana. 

Ya, bersyukur aja atas apa yang diterima tanpa perlu dibandingkan dengan siapa dan apapun jua. Menganggap segala kenikmatan maupun kesulitan yang datang sebagai sesuatu yang harus diterima dan terbaik buat kita saat ini. Sambil terus mengikhtiarkan hal baik. 

Sudahkah bersyukur hari ini?