Karena sejak kecil (1,5th) diasuh Abak dan Amak di kampung, ada satu pelajaran hidup yang berkesan (semua berkesan), yaitu merawat. Karna sebagian (besar) hari mereka dan sampai berpulang ya merawat. Merawat sawah, ladang, hewan ternak dan cucu. Secara tidak langsung mereka menularkan dan mengajari hal itu kepadaku.
Merawat bukan suatu hal mudah, ada tanggungjawab di dalamnya, tidak bisa sekedarnya, apalagi yang dirawat itu makhluk hidup. Pasti mereka punya rasa.
Seperti yang dicontohkan Amak, Amak setiap datang ke sawah mengucapkan salam "Assalamualaikum"
lalu pulang berpamitan dengan padi
" Kami pulang dulu yo, elok-elok di sawah, buruang jan habihan padi kami, tinggaan tuak kami"
Ada sebuah kedekatan yang tak bisa kupahami saat itu sebagai anak kecil. Amak kok berbicara dengan padi? padi kan tidak bisa berbicara. Padi hanya bisa bernyanyi, eh itu grup band Padi ya? ðŸ¤
Selain rasa tanggungjawab yang ada dalam merawat, ada rasa "sayang" yang terus dipupuk. Hal ini berkaitan dengan hati bukan ampela.
Kalau bahas soal hati agak angel, ya? hati-hati dengan hati, pokoknya jagalah hati, jangan kau nodai... (jadi nyanyi, maap)
Kembali ke masalah hati (yang tersakiti) dan berkaca ke diri sendiri. Duh, gimana ya menjelaskannya 🫣
Ada suatu anggapan atau yang diyakini (dulunya), bahwa apa yang kurawat dengan sepenuh hati, mereka akan selalu ada bersamaku. Karna kumerasa, telah mencurahkan dengan sepenuh hati dan mereka tak kan pernah pergi atau mati. Karena sebegitu rapuhnya hatiku, ditinggal mati tanaman, hewan bahkan manusia kubisa begitu sedihnya, kadang merasa kutak cukup baik dalam merawatnya. Duh, air mataku, sudah berlinang 🥹
Ketika semaian sayur, yang sudah dirawat dengan baik, tiba-tiba diserbu hama, kubisa bersedih. Padahal sudah dipupuk dengan cinta pakai taik kambing. Ketika Beruk kesayanganku sakit lalu mati, kujadi gelisah galau merana, gegana istilah anak jaman now. Ditinggal kucing, soang, ikan, anjing, burung dan ayang ups typo, maksudnya ayam rasanya pun sama. Paling patah hati sampai berkeping-keping, ya ditinggal Amak dan Abak selamanya (mata berlinang lagi)
Rasanya, tuk setiap apa yang kurawat, aku ga pernah main-main dan setengah hati, kenapa mereka pergi. Sampai mempertanyakan kepada Tuhan. Apa aku kurang baik dalam merawat apa yang telah dititipkan buatku? kenapa satu-satu mereka pergi meninggalkanku?
Ya itu dulu. Perasaan yang muncul saat merasa bahwaku bisa mengendalikan semua hal yang terjadi di hidupku. Merasa berhak mengatur semua menurut mauku. Oh, siapa aku?
Sekarang bagaimana? Ya terus belajar mengelola hati kok. Soal melapaskan, ada suatu tulisan dari blogger favoritku, kulupa tulisan secara utuhnya. Intinya, untuk setiap yang pergi dalam hidupmu, itu karna emang waktu bersamamu sudah habis. Yaudah. Jadi tak ada yang perlu disalahkan. Memang itu keniscayaan hidup di duniakan? semua ada waktunya. Lama atau sekejap, itu soal waktu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buruaan komentar..selagi gratis..:D