Rabu, Juli 08, 2015

Orang-orang Yang Dalam Pikiran

Sebagai orang yang setiap hari kemana-mana naik angkutan umum, sekali-kali kadang ditebengin. Alhamdu…lillah…*lempar-lempar selendang*. Mulai dari naik angkot, busway, bus kota, travel AJDP (Antar Jemput Dalam Provinsi) bemo, ojek, kalau lagi kaya sekali-kali naik burung biru *benerin jilbab*.

Karena seharian lebih sering sendirian *kode*, iya, kalo sendirian saya lebih suka melihat-lihat dan mengamati hal di sekeliling, kali aja ada cowo ganteng dan keren.

Kalau ada lampu merah, itu tandanya kendaraan semua berhenti. Di sinilah saya suka memanfaatkan momen. Bisa jadi saya tiba-tiba mikirin jemuran, anak tetangga, menikmati lagu yang diputar atau atau sekedar mengamati pengendara motor, sambil mikir keras dan melihat kiri ke kanan banyak pohon cemaraa aaa….Upss salaah…melihat pengendara mobil yang mengkilat, mulus dan ada AC di dalamnya. 

Di sinilah kadang ide random saya keluar, selain di toilet. Jika melihat mobil mengkilat lagi mulus, saya berpikir, oh betapa enaknya orang-orang yang dalam mobil itu, tidak perlu capek-capek naik angkot turun angkot yang kencengnya bisa menyaingi kecepatan cahaya (lebay), tidak sempit-sempitan karena diminta geser-geser ama si abang sopir, tidak akan mendengar musik yang memecah gendang telinga, dan tidak perlu was-was dari pencopet. Itu hanya pikiran saya, saya juga tidak tau apa yang ada dalam pikiran orang yang di dalam mobil melihat saya. Jika mereka melihat saya, bisa jadi mereka memikirkan, perempuan berjilbab itu manis dan keren juga ya…setiap hari naik angkot, pasti dia sudah pacaran ama sopir angkot…Tidaaakk…*pingsan*.

Tapi mungkin apa yang saya pikirkan bisa jadi salah. Mereka yang di dalam mobil mewah itu ternyata tidak seenak dan senyaman yang saya pikirkan. Bisa jadi mereka yang di dalam mobil mewah itu pikirannya stress karena memikirkan ikan asin yang dijemur belum diangkat, kucing peliharaannya tidak pulang-pulang, istri yang malas mandi, kreditan odong-odong belum dilunasi, korupsi 1 karung semen di kantor, atau cemas mikirin handphone belum ganti-ganti sedangkan model baru terus bermunculan, dan masih banyak kecemasan plus pusing yang bergelantungan di pikirannya.

Ya, kita tidak pernah tau, apalagi saya. Orang-orang yang terlihat baik-baik saja, belum tentu baik-baik saja menurut penilaian kita. Jika orang-orang yang duduk di dalam mobil mewah itu keliatan tenang-tenang saja, pikiran dan hatinya belum tentu seperti itu. Mungkin ya. Semoga aja saya salah. Dan Anda benar.

Sepertinya, banyak hal yang tidak kita ketahui di luar diri kita sendiri. bahkan, kadang diri kita sendiri pun sulit untuk dimengerti dan dipahami.

Mungkin hidup emang harus begitu, setiap kita memiliki pening masing-masing dan terus berjuang menyelesaikan setiap pening yang datang menghadang. Semoga setiap pening yang datang tidak pernah membuat kita kehilangan akal dan kehilangan iman. 
Selamat bobo. Muaahh…1000x


Jangan lupa sahur, yaa…kalau lupa, jangan salahkan saya yaa… kan udah diingetin….

Selasa, Juni 30, 2015

Ramadan Menyuruhku Pulang

Ibarat menunggu pujaan hati yang datang, seperti itu yang saya rasakan saat menyambut kedatangan bulan Ramadan. Ada rasa bahagia menyambut kedatangannya. Seperti yang kita ketahui begitu banyak keutamaan pada bulan tersebut. Dan yang paling penting, karena saya masih diberi kesempatan kembali oleh Tuhan berada di bulan Ramadan seperti tahun yang lalu. Semoga setiap Ramadan yang datang, kita semua bisa mengisinya dengan baik. Aamiin. Duh, kok jadi kayak ceramah begini ya? Sudah lupakan saja!

Setiap bulan Ramadan datang, ingin sekali rasanya lebih banyak melewatinya di rumah.  Tapi kenyataannya tidak. Walaupun begitu, yang penting  saat puasa hari pertama saya berada di rumah. Sudah seperti kewajiban, setiap puasa pertama saya harus melewatinya di rumah. Saat seperti ini kita sekeluarga bisa berkumpul tanpa terkecuali, kecuali kalo lagi absen (lha?). Walaupun pada puasa berikutnya, kita akan kembali menjalankan rutinitas seperti biasa, saya harus wara-wiri dari mesjid ke mesjid, ngapain? Jagain sandal jamaah tarawih. Puass?


 Maksudnya, saya kembali ke kosan, adek-adek pun begitu. Dan kita akan bertemu kembali di akhir Ramadan menjelang Idul Fitri. Tidak melewati sahur pertama di rumah, rasanya itu seperti menyelam tidak minum air. Kurang greget kalo orang keren bilang.


Ada satu hal yang tak pernah berubah dari sejak saya mengenal bulan Ramadan, dimana pada bulan tersebut umat muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Sahur pertama dan berbuka pertama di awal Ramadan, Mama selalu menghidangkan rendang padang untuk kita santap sekeluarga. Maklumlah, sebagai  orang yang darah minangnya kental sekali. Rendang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan, apalagi rendang padang sudah mendunia . Tinggal saya aja orang padang yang belum mendunia ( mari abaikan!).

Jika melewati Ramadan di rumah, banyak hal menarik yang saya lewati. Mulai dari bangun untuk sahur. Sebuah cobaan berat yang dilalui untuk memulai sahur. Biasanya saat waktu makan sahur, saya masih mimpi cantik dan ngiler, eh tiba-tiba dibangunin. Dibangunkan untuk sahur itu bagaikan membangunkan macan yang lagi tidur. Kalau tidak pandai-pandai bisa-bisa kena gigit…Grrr…

Biasanya, saat sahur Mama adalah orang yang pertama bangun. Sambil menyiapkan hidangan sahur di dapur. Mama terus berkicau supaya saya dan adek-adek bangun dan segera keluar dari kamar. Kalau  Mama sudah sering bolak-balik masuk kamar dan mencolek-colek badan kita, jika itu gagal membuat kita bangun. Mama lebih memilih makan duluan sambil menakut-nakuti dan mengatakan 
 “ 5 menit lagi imsak…5 menit lagi…”.
 Itu sebuah kata-kata pamungkas dari Mama, yang membuat kita akan bangun secepat kilat dan menahan godaan gaya tarik kasur yang begitu menggoda. Berbeda dengan Papa. Kalau membangunkan kita Papa biasanya suka menarik-narik jempol kaki sambil disembur mburrr…dan menyalakan lampu kamar, itu akan membuat mata saya pedih, dan akhirnya menarik selimut. Bobo cantik lagi aah…

Lain lagi, jika kakek yang membangunkan, kakek akan mengendor-gendor pintu kamar sambil teriak
 “ sahur..sahur…”
 pintu kamar serasa mau runtuh. Andaikan pintu bisa ngomong, pasti ia akan meminta pensiun dini menjadi pintu kamar saya, karena tidak kuat di gedor-gedor terus setiap mau sahur. Yang sabar ya pintu…( elus-elus pintu).

Jika sudah selesai makan sahur, sambil menunggu waktu imsak . Biasanya Saya menyediakan satu gelas air,yang nanti air itu akan diminum saat sirene panjang berbunyi menandakan imsak. Ketika sirene berbunyi, saya dan adek-adek berhambur dan berebutan gelas yang sama.  Jika diperhatikan ketika kita menyerbu gelas yang sama, kita seperti macan yang sudah seminggu tidak makan. Serem ya? Walaupun pada akhirnya, kita hanya mendapatkan jatah satu atau dua teguk.


Ya, begitulah keseruan kalau melewati Ramadan di rumah yang selalu dirindukan ketika jauh dari rumah. Jika sudah di kosan, beberapa kali sahurnya suka kelewatan.  Bangun-bangun udah azan subuh. Kasihan.

Rabu, November 05, 2014

Lama Sudah

Oh begini rasanya, lama sudah tak menulis. Menulis blog maksudnya. Menulis untuk yang satu itu tetap lancar. Sttsss...RHS....

Ada rasa kangen merangkai kata-kata tanpa  aturan baku yang sedikit mengikat. Kata-kata terus mengalir bebas. Sekarang, saya binggung mau menulis darimana. Hahaha

Ya udah ya...yang penting tetap lanjut tidurnya, eh nulisnya....
Saat kita berhenti melakukan hal-hal yang kita sukai dan dilakukan dengan senang hati. Itu kalau kata artis dangdut yang lagunya lagi “Hits” sekarang, “ sakitnya tuh disinih”...hahaha...lebay bingits yah?

Sudah, Lupakan.

Sebenarnya bukan berhenti, hanya saja cuti alias istirahat sejenak. Mungkin ini bisa disebut dengan pengorbanan. Istirahat sejenak melakukan hal yang disenangi demi skrip.... Eh...*tutupmulut*

Sebenarnya, saya ini termasuk jenis spesies (Manusia) yang suka sekali bercerita dan mendengar cerita, apa saja. Dari hal serius sampai yang ga jelas yang bisa bikin perut mules. Hihihi. Bahkan, waktu kecil saya terbilang anak yang cerewet. Hihihi. Jadi malu. Kalau sekarang udah enggak, enggak kalah cerewet maksudnya. Upss *abaikan*. Maklumlah, ya...ibuk-ibuk *benerin jilbab*.


Kelihatannya, saya makin ga jelas. Mungkin lebih baik, saya akhiri sampai disini. Muaah...muaah...*pelukpembacasetiablogsaya*

Rabu, Juni 11, 2014

Pilihan Yang Harus Dipilih

Holla...

Akhirnya, saya bisa menyapa kembali teman-teman semuanya. Duh, senangnya...*bersihin sarang laba-laba di blog*
Tak tau saya harus nulis darimana. Bagusnya darimana ya? Dari Sabang sampai Merauke aja kali, ya?

Kata orang-orang bijaksana dan bijaksini, Hidup itu pilihan. Iya, semuanya harus dipilih. Termasuk pilihan memilih untuk tidak memilih, mungkin karena saking banyaknya pilihan, jadi binggung apa yang harus dipilih.

Ingat, ya...ini gak ada hubungannya dengan pemilihan presiden bulan depan.  Karena, saya sudah memutuskan untuk memilih, kamuu #uhuukk

Oke, kembali kepada pilihan *Muter lagu syahrini feat Anang* ( Jangan memilih akyu...bila tak sanggup setiaaa.....aaa.....)

Alkasih, eh alkisah pada suatu hari. Tapi saya lupa hari itu hari apa. Saat itu saya terburu-buru, walupun sebenarnya ga ada yang memburu. Dalam waktu 1,5 jam, saya harus agar segera  sampai di kantor pos terdekat untuk  membayar tiket pesawat, kalau tidak segera dibayarkan, tiket tersebut akan hangus. Motor pun tak ada di rumah dan emang saya ga bisa bawa motor juga. Hahaha...ciyan deh gue...-__-

Saya pun memutuskan untuk menggunakan angdes (Angkutan Desa), saat itu emang saya lagi di kampung. You know lah, ya..angdes tak sebanyak angkot yang ada di Kota Padang, yang bisa lewat tiap menit dan bisa memilih mau naik yang mana. Kalau di kampung, butuh kesabaran lebih untuk menunggu angdes lewat.

Sesampai di kantor pos, ternyata kantor pos terdekat belum bisa online untuk melakukan pembayaran tiket pesawat. Alaamaak...*tepuk jidat tetangga*. Waktu masih tersisa lebih kurang 1 jam lagi untuk melakukan pembayaran dari waktu pemesanan.
Bener-bener the power of kepepet. Secepat mungkin saya langsung meninggalkan kantor pos tersebut dan segera menunggu angdes menuju kantor pos pusat kecamatan. Tanpa perlu pikir panjang, saya langsung menaikki angdes yang lewat pada saat itu, dan mengantarkan saya sampai di tujuan.

Berhubung penumpangnya sedikit, angdes yang saya tumpangi berjalan dengan sangat lambat, sekalian menyari penumpang sih. Saya yang buru-buru, rasanya pengen nyium bapak sopir biar jalannya ngebut. Saya terus memperhatikan detak jarum jam, jangan sampai berhenti berputar. Lha?

Di tengah perjalanannya, angdes yang saya tumpangi disalip oleh angdes yang di belakang dan melaju dengan kencang. Uhfff...*tarik napas dalam-dalam*. Saya langsung menyalahkan diri sendiri sambil ngedumel dalam hati.

Iiih...Kenapa saya gak cukup sabar menunggu angdes yang tadi....udah bagus, ngebut lagi...!
Kalau naik angdes tadi, pasti saya akan lebih cepat sampai....!

Saya hanya bisa garuk-garuk muka sendiri dan terus berharap angdes ini berjalan lebih cepat. Kalau sudah begini, saya hanya berdamai dengan apa yang saya pilih.

Jarak kantor pos cabang dengan kantor pos pusat sekitar 7 KM, kalau di tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, bisa cepat sampai. Tapi apa daya, saya tak punya jet pribadi...huhuhu

Dan ternyata...ternyata...saat saya melewati Pom Bensin, angdes yang telah menyalip angdes yang saya tumpangi lagi ngantri di pom bensin. Saya hanya bisa bersyukur dan tersenyum lega dan bergumam dalam hati...

andai saya naik angdes yang ngebut tadi, pasti saya belum tentu sampai tepat waktu.....

Lagi...lagi...Saya hanya bisa tersenyum lega dan bersyukur sekali pada menit-menit terakhir saya bisa melakukan pembayaran tiket tersebut.

Pilihan emang selalu membuat binggung, yang bisa dilakukan adalah yakin atas pilihan yang telah dipilih. Percayalah setiap pilihan ada kuasa Tuhan di dalamnnya. Tsaah *sok bijaksana dan bijaksini*.
Sekian dan aura kasih...:D

Jumat, Maret 21, 2014

Yang Penting Nulis

Iseng-iseng mengubek-ngubek postingan lama yang udah lama gak diperhatikan. Senasib dengan mantan..majikan. Akhirnya, mereka pun berhasil mencuri perhatian saya. Bener-bener membuat saya malu ama diri sendiri dan bertanya kepada diri yang alfa ini.

Kok bisa saya menulis begitu ya?
Iih..parah banget tulisannya..! 
Siapa sih yang nulis begini? Bikin malu dunia persilatan aja.*nampar-nampar pipi*.


Ini serius teman’s

Betapa banyak kesalahan yang saya dalam menulis. Jaman sekolah, Bahasa Indonesia salah satu mata pelajaran yang disukai. Kadang teori emang gak semudah mempraktikkannya. Dan terlalu banyak menghafal teori, kita tidak pernah tau salahnya dimana.

Gak perlu jauh-jauh mengubek-ubek postingan saya yang lama. Ini saya kasih lihat contoh tulisan terparah yang pernah saya buat. Hahaha *ngumpet di balik bantal*.



Tulisan itu dengan bangganya saya publish di blog. Gak tau malu bin malu-maluin banget kan, saya?. Hihihi.
Anak esde aja, pasti bisa mengoreksi kesalahan tulisan saya diatas.

Dulu..iya dulu..tulisan itu sudah terlihat keren dan oke buat diposting di blog. Semakin banyak belajar dan makin banyak makan tau, membuat saya merasa tulisan saya gak kalah jeleknya dari tulisan anak es-de. Hiks.

Mungkin itu lah yang disebut menulis itu proses. Proses membuat salah dan terus belajar.
Semangka Water Melon..Keep Writing...Ting..*kedip-kedip*.



Jumat, Maret 07, 2014

Maju Kena Mundur Kena

Sekarang udah tanggal 7 bulan 3 aja, ya? Bulan baru sudah lewat, dan saya belum menulis postingan baru di blog. Halaah..keliatan kalau saya pemala....*teks hilang*

Saya adalah makhluk tuhan yang paling sexy..suka banget bercerita. Kadang  ada aja yang mau diceritain. Walaupun ujungnya, suka tertawa gak jelas. Kadang menertawakan diri sendiri. Hahaha *mulai gila*

Saking suka cerita pake bingit *ngikut gaya ABG*, saya lupa darimana memulai ceritanya. Hasyeemm...*dilempar galon*.

Kalau kamu duluan yang cerita gimana? *kedip-kedip brondong* *ganjennya kumat*.
Begini ceritanya...


Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba angkot yang saya tumpangi bisa terbang dipukul dari belakang..
Prok..prok..
bukan..bukan...pokoknya ya gitu deh bunyinya...

Saya yang lagi asyik curi-curi pandang ama pak sopir menikmati makanan yang dijajakan pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan. Emang bikin lapar mata. Perut saya melambai-lambai minta diisi *itu perut apa nyiur ya?*

Angkot yang saya tumpangi sudah cukup lama terjebak macet di pasar raya. Angkot belum bisa bergerak dan segera move on. Masih ngetem disitu-situ aja. Sampai-sampai saya jenggotan. Ibaratnya, seperti  seorang yang sudah putus dengan pacarnya, tapi belum bisa melupakan kenangan indah bersamanya. Pedihhh..*nangis darah*

Setelah di pukul beberapa kali, angkot maju sedikit ke depan. Sepertinya nyari tabrakan beruntun dan mengenai angkot yang di depan. Mendadak, langsung saja sopir angkot yang di depan keluar dan marah-marah. Saya menjadi terkejut. Kayaknya si bapak sopir itu lagi dapet deh..sensitif amat jadi orang, amat aja gak sensitif.

Biar gak susah mikirnya. Kita sebut saja mawar, nama abang sopir angkot yang saya tumpangi. Sopir angkot yang di depan saya, melati. Abang sopir angkot yang dibelakangnya, sebut saja Anggrek. Jadi, posisi angkot yang saya tumpangi berada di tengah-tengah. Antara angkot abang melati dan abang anggrek. Kebayang kan? Enggaakkk...Grrrrr....

Karena, angkot abang mawar sudah dipukul dari belakang. Bang mawar sedikit memajukan angkotnya ke depan. Saya kurang tau persis gimana kejadiannya. Sepertinya, angkot bang mawar sedikit mengenai angkot bang melati. Tergores sedikit. Dan..dan..bang melati langsung membuka pintu angkotnya, langsung keluar dan menghampiri bang mawar.

Bang melati langsung marah-marah gak jelas. Kayak mau ngajak berantem. Syukur bang mawar gak cepat naik darah, dan tetap bisa kalem walau diajak berantem..assiikk...

Saya yang berada di dalam angkot udah parno duluan, jangan sampai bang melati dan bang mawar main jambak-jambakan mirip ibu-ibu komplek.
Andai saja, bang anggrek bisa sedikit bersabar di tengah kemacetan. Tentu saja ini tak kan terjadi. Sudah jelas macet, malah pengen jalan duluan. semut aja numpang lewat susah. Apalagi gajah. Lha??


Sepertinya, kemacetan dapat menganggu kelabilan ekonomi emosi seseorang.

Jumat, Februari 28, 2014

Kerinci, Pulang Untuk Kembali Lagi



Bagaimana rasanya, jika di tengah perjalanan kita diharuskan pulang?
Perjalanan yang telah dipersiapkan sebelumnya. 
Perjalanan yang sudah dibayangkan, bahagia diakhir ceritanya, walaupun tak selalu. Yang penting bisa pamer foto terbaru. Hahaha

Semua itu berhenti oleh sebuah kata, pulang. Ada rasa tidak terima di dalam hati. Pulang tak selalu jadi akhir dari setiap perjalanannya.
Begitulah yang saya alami dan dirasakan sampai ke lubuk hati. Sebelum menginjakkan kaki di atap sumatera pada ketinggian 3805 Mdpl. Kita semua, Bang Jamie, Bang Ayub, Mister Sergey, Kak Sari, Kak Yandhi, Karina, Kak Aan, dan Randa, memutuskan untuk pulang dan turun dengan indah dari shelter 2. Walau agak sedikit nyesek. Tapi kita harus pulang. Harusss..

Sepanjang jalan turun, saya sudah menerka-nerka dan membayangkan gimana reaksi orang-orang yang mengetahui saya menanjak Gunung Kerinci, dan diserbu dengan beberapa pertanyaan yang bisa membuat hati mimisan.

“foto di puncaknya mana ne?”
“lha, kok gak sampai puncak?”
“aduh..kasihan banget, ya..gak sampai puncak!”
*mendadak asah golok*
Selalu ada alasan disetiap keputusan.

Badai membuat kita memilih untuk turun dan pulang. Ini bukan waktunya untuk gagah-gagahan  melawan kekuatan alam.
Badai selalu mengiringi dan mengikuti langkah perjalanan kita dari awal pendakian. Namun kita mencoba untuk tetap positif thinking, badai pasti akan berlalu. Iya..berlalu..tapi saat kita udah sampai di bawah. Nyesek Broo..!

Saat bermalam di pos 2 pendakian Gunung Kerinci, tengah malam badai bertiup dengan kencangnya. Saya yang lagi berusaha untuk menganyam bulu mata jadi takut sendiri. Takut..kalau pepohonan di sekitar kita pada tumbang, dan menimpa tenda kita. Suara berisik dari ranting dan dedaunan pohon, menambah level ketakutan saya *peluk carrier*.

Masih berharap badai segera berlalu, kita tetap pada tujuan kita dan meneruskan pendakian kita. Mungkin karena kebanyakan ngarep kale, ya? Makanya, bikin nyesek.

Medan yang semakin lama menanjak dan menantang, membuat nafas saya tersenggal-senggol (bahasa apalah saya ini), pokoknya ngos-ngosan mirip teroris yang habis dikejar Densus 88. Suhu yang dingin dan tiupan angin, membuat ingus mengalir dengan indah dari sarangnya. Jika terlalu lama istirahat, dingin makin terasa sampai ke tulang.

Angin masih tetap mengiringi langkah kita. Gak capek apa, ngikutin kita terus!.  Makin ke atas, pepohonan rimbun makin berkurang. Tiupan angin makin terasa, bawaanya ingin segera memeluk kompor. Sepanjang jalan sudah banyak ranting-ranting pohon yang patah, pepohonan makin bergoyang sana-sini mirip goyang Caisar. Jadi, kita harus lebih hati-hati saat melewati pepohonan.

Hari semakin sore, tenaga dan kekuatan kita makin menurun. Kita semua terpisah jadi kelompok kecil. Saya yang mirip kuli angkut pasar ini, melangkahkan kaki aja udah satu-satu (kalau sekali dua pocong donk!). Hanya semangat yang masih tersisa untuk sampai di shelter 2. Semangatt..*kuatin ikat kepala*.

Bahkan, sampai-sampai saya terjatuh karena gak kuat berdiri lama, ditambah hembusan angin yang kuat. Saya memilih menjatuhkan diri ke tanah, daripada diterbangkan angin, trus nyangkut di pohon. Tidaaakk..

Melihat saya udah mirip suster ngesot, Kak Aan yang berada di belakang saya, langsung ketawa. Dan kita ketawa bersama biar penat tak terlalu terasa. Ahahaha...

Sejak mulai menginjakkan kaki di shelter 2, sampai malam harinya. Angin tak henti-hentinya bertiup. Kita yang dibagi dalam 3 tenda, memilih masuk dalam satu tenda. Susunan dalam tenda udah mirip ikan sarden yang siap dikirim dan dijual.
Malam itu, saya sudah gak memikirkan lagi untuk muncak dan ngejar sunrise  dan udah gak banyak berharap. Saya hanya bisa, ngurut kaki aja. Capek euy.. Woless Mbak Bro..woless..!!

Mungkin lebih baik saya bobok cantik aja deh di tenda. Angin yang begitu kencang, bahkan frame tenda milik randa patah. Menurut Bang Jamie, yang sudah gak terhitung berapa kali menginjakkan kaki ke gunung ini, se umur-umur  badai kali ini emang dahsyat. Lebih dahsyat dari dahsyat RCTI.

Ada benarnya juga pepatah “ tak kan lari gunung dikejar”, tapi saya yang suka lari..lari dari kenyataan. Berhubung Sergey dan Karina dari Rusia dan Bang Ayub dari Pekalongan, mereka memutuskan untuk tetap muncak dengan beberapa pendaki lainnya. Kasihan udah jauh-jauh kesini.
Sekitar pukul 03:00 pagi, Bang ayub mengendor-gendor tenda kita, meminta sumbangan mushala makanan buat bekal di perjalanan.

Trus yang gak muncak, ngapain?
Ya..sisanya, memutuskan bobo cantik dan melanjutkan mimpi, moga-moga aja mimpiin udah nyampe di puncak sambil memegang bendera merah putih, karena udah gak kuat lagi..nyerah..nyerah bro..!

Kita hanya berharap dan mendoakan, mereka yang muncak baik-baik saja.
Paginya, sekitar pukul 07:00 pagi lebih kurang, rombongan yang ikut muncak termasuk Sergey, Karina dan Bang Ayub kembali ke tenda. Beritanya, mereka gak sampai ke puncak. Makin ke atas badainya makin kuat karena tidak adanya vegetasi. Bahkan batu-batu pada berterbangan.

Jadi, gak ada alasan lagi untuk tidak memilih segera pulang. Badai bukan untuk dilawan. Tapi kita harus melawan ego yang ada di dalam diri kita, untuk segera turun dan pulang. Jangan sampai kita mengikuti ego diri sendiri, dan pada akhirnya akan mencelakakan diri kita sendiri. Nah lhoo?? Setidaknya kita semakin menyadari, bahwa kita manusia memiliki kekurangan. Sekuat-kuat manusia, pasti ada batas kekuatannya. 

Walau saya gak sampai puncak dan cuma numpang tidur cantik di gunung. tapi pendakian kali ini saya cukup ngambil hikmahnya saja. Bahwa alam itu bukan untuk ditaklukkan..keselamatan juga harus diperhatikan. Serta saya semakin menyadari, saya bukan apa-apa dibandingkan dengan ciptaan Tuhan dan kekuasaanya.
Yang penting, saya dan kak Aan mencatat rekor muri, karena berhasil BAK dan BAB dari ketinggian. Hahaha

Biar pun, kita semua memutuskan pulang. tapi pulang bukan akhirnya dari segalanya. Sergey, Karina dan Randa pulang untuk melanjutkan perjalanannya lagi ke Danau Gunung Tujuh. Bang Ayub gak mau kalah, ia malah melanjutkan perjalanannya ke Danau Gunung Tujuh dan Gunung Talamau, gunung tertinggi di Provinsi Sumatera Barat. Dan saya pun ikut pulang ke pangkuan guling tersayang.


*langsung pasang lagu Sheila on 7*

Aku pulangTanpa Dendam
Ku terima, kekalahanku.
..
huhuhuhu
Penampakkan dari shelter 2



Team Badai 
Photo By Sergey



Rabu, Februari 12, 2014

Diskon oh Diskon

Punya tampang pas-pasan kayak saya ini, emang suka nyesek *kaca mana kaca*. Kadang ada yang ngira pembantu, kadang ada yang bilang mirip bidadari..iya..bidadari guling-guling masuk kali..huhuhu..

Gak ada niat untuk protes kepada Sang Pencipta. Tapi..tapi..ya itu..manusia suka mempertanyakan apa yang terjadi pada dirinya. Termasuk saya, karena saya masih manusia..hehe..

Ya..kalau kita terus-terusan protes dan mempertanyakan. Kapan waktu buat mensyukurinya?
Tsaah...Sadaapp...( tumben saya ngomong bener, ya?)

Biar dikata anak gaoel Kota Padang, oleh karena itu saya memilih tempat ngadem di dalam Basko Grand Mall (emang apa hubungannya, ya?). sudah..sudah..abaiakan saja..:D

Hari itu, lupa tanggal berapa..pokoknya hari itu..sekalian ngadem saya mau belanja-belanji mirip ibu-ibu sosialita gitu.hehe.

Berhubung, wajah saya gak bisa digonta-ganti dan dibongkar pasang kayak topeng, jadi kemana-mana harus dibawa. Nasip..ya..nasip..( ingat pake B, ya Yura..)

Karena, sudah lama mengincar salah satu sepatu yang ada di sana. Kebetulan duit udah terkumpul hasil dari jaga lilin. Maka, harus disegerakan membelinya, jangan sampai diembat duluan ama yang lain.

Setelah nomor dan warna sepatunya cocok. Saya meminta, mbak-mbak SPG untuk membungkus. Dan saya diminta untuk langsung membayar ke kassa 5.

Sepertinya, si mbak-mbak SPG yang menjaga di kasir ragu, kalau saya gak bisa bayar sepatu itu. Sampai dua kali si mbak-mbak SPG bilang, “ ini gak didiskon, ya..”. Kali pertama, saya oke-oke saja. Kali keduanya, "ini gak didiskon,ya.." saya jadi gimana gitu. Tumben kali ini si mbak-mbak SPG ini cerewet. Apa karena tampang saya, tampang penggila diskon?  Iya juga sih, tapi dikit kok..asal semuanya cocok..cocok ama keuangan juga.hehe.

Walaupun sedikit gila diskon, kali ini, saya tau..kalau saya membeli sepatu yang gak didiskon..sepertinya si mbak-mbak SPG meragukan, saya bisa membayar sepatu itu. Hiks..tega-teganya..

Ya walaupun begitu..positif think aja deh..syukur, udah diingatin..saya aja yang keburu sensi..hehe..dan sepertinya saya harus sering-sering ngaca..lhaa??