Senin, Agustus 13, 2012

Menyusuri Jejak Tan Malaka


Wah,ternyata dah lama juga,ya.. saya nyuekkin si Blog,maafin yee...maklum saja lah..puasaa..enakkan tidur..hehe #Ngeles

Berkat keisengan saya bergabung di Fanpage Backpaker Indonesia (BPI),tapi kayaknya gak iseng2 jga kle.Ya pngen gabung aja,mana tau saya nemu pangeran saya..lha??apa seh,yuraa..?Gak kok,pngen berbagi pengalaman dengan backpaker2 yg lebih berpengalaman dibandingkan saya..

Ketika itu,salah satu anggota BPI,mengirimkan artikel di grup BPI tentang Tan Malaka. Dan beliau adalah salah satu pengagum Tan Malaka dan ingin sekali datang ke rumah kelahiran Tan Malaka. Saya pun berniat mencarikan informasi bagaimana transportasi kesana,dan lain2nya yang dirasa perlu. Kebetulan, sepupu saya,papa nya berasal dari kecamatan yang sama. Ternyata,teman2 Backpaker dari Padang membaca komentar saya,dan mengajak mencari informasi Tan Malaka. Ya udah,saya pun menyetujuinya dan janjian bertemu.

Walau saya asli orang Padang tapi,saya tidak tau kalau rumah kelahiran Tan Malaka telah dijadikan Museum dan Perpustakaan. Cuek bgtz,saya yaa..masak orang yg jauh diseberang sana,lebih tau info tentang tan malaka dibandingkan saya..heuheu..Malangnyaa..sepertinya,saya harus pensiun dini jadi orang Minangkabau hoho. Tak lupa saya juga berterima kasih kepada Bapak Harry A poeze,seorang sejarawan asal Belanda, yang telah berupaya memecahkan misteri Tan Malaka selama 4 dasawarsa. Karena tak banyak ilmuwan yang mau yang mau meneliti tentang sosok Tan Malaka.Kayaknya,takut dicap PKI,kale yaa..

Tanggal 8 agustus 2012,saya berangkat menuju kampung Tan Malaka yang terletak di Nagari Pandam Gadang, Kec.Gunung Omeh, Kab.50 kota,Sumatera Barat, bersama 3 orang lainnya. Kak Sari, Bg Riko, dan Bg fahmi yg bergabung dari Bukittinggi.Mereka anggota Backpacker Padang. Diantara mereka,saya yg paling kecil,unyu dan imut #hueeek. Kak Sari seorang PNS yg mengajar disalah satu SMK di Kota Padang,pengalaman perjalanannya lebih dari saya,kak sari sudah pernah ke Belitong,Bromo,Dieng,Jogja. Bg Riko mahasiswa Magister Pendidikan Kimia di UNP,yg lagi galau nyusun Tesis..hehe,pengalamannya jga bnyak,pernah ke Bali brmodal nekat,krna nemu tiket pswat murah.Serta Bg Fahmi,Pedagang yang sudah dua kali mendaki Gunung Rinjani (Woooww amaziiing..)dan katanya,masih pengen balik ke rinjani lagi..ajak yura,ya bg..hehe. Walaupun begitu,ada kesamaan diantara kita, selain sama2 hobi jalan,yaitu sama2 satu almamater di Universitas Negeri Padang walaupun jurusan dan angkatannya berbeda.

Dengan ucapan Bismillah,pukul 10:15 kita bertiga berangkat dari Kota Padang dengan mengendarai motor. Ini adalah pengalaman pertama saya pake motor lebih dari 3 jam perjalanan. Kita pake motor santai2 saja,secara puasa juga kan,kira2 kecepatannya 100/Km lah(Gak kok).Kak sari juga takut ngebut2.

Tak terasa hampir 2 jam perjalanan,akhirnya kita sampai dekat objek wisata Air Terjun Lembah Anai.Tapi,kita tidak singgah.Kita berhenti sebelum air terjun,karena ada sebuah tempat,tempatnya itu sejenis pondok atau apalah,gak tau jg namanya.Pokoknya,sering dijadiin tempat persinggahan orang2 untuk melihat pemandangan air terjun,sungai dan hutan yang lebat dari kejauhan. Kita pun take a picture,artinya apa ya??buka aja google translate..hehe di Pondok ini,bnyak monyetnya..saya ketakutan saat melihat monyet. Tapi,Bg riko meyakinkan,klo monyet itu gak ngapa2in. Secarakan,saya sudah pernah dikejar monyet,baca aja disini. Jadi,masih trauma dikit klo berhubungan dengan monyet. Sampai2,saya diketawain karena pas difoto,tampang saya mdel orang ketakutan..hehe

Monyetnya lagi pacaran tu..


Air Terjun Lembah Anai dari Kejauhan



Pmndangan dari t4 yg berbeda

Tak terasa,pukul 1 siang kita sampai di Bukittinggi. Sebelumnya kita mampir dulu di rumah bg Fahmi,soalnya,kita tak tau persis alamat rumah Tan Malaka. Jadi,kita ngajak Bg fahmi.Kebetulan juga,kita belum pernah ketemu sama Bg fahmi,jadi kenalan dulu. Dia,juga menawarkan kita nginap di rumahnya. Awalnya,agak ragu juga menerima tawarannya.Takut merepotkan. Biarlah,kita para cewek,nyari losmen tuk penginapan.Tapi,bg fahmi meyakinkan,klo Mamanya sudah mengijinkan dan dia punya adek cewek,jadi kita para cewek tidur bareng adeknya.Gak mungkinkan,tidur sama para cowok,apalagi sama tetangganya..siap2 aja digrebek sama warga sekampung..atuuut..

Sekitar pukul 2 siang,kita melanjutkan perjalanan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari Bukittinggi. Akhirnya,kita sampai juga..Alhamdulillah,yaa..Untuk mengenang dan menghargai Tan Malaka,setelah melewati Kota Payakumbuh,sepanjang jalan menuju rumah Tan Malaka, jalannya diberi nama Tan Malaka.Makanya,saya heran,kok nama jalannya gak ganti2...Sepanjang perjalanan pemandangannya hijau semua,kiri-kanan dikeliling bukit2 dan sawah. Mata tak bosan2 memandang. Ijo royo-royo gtu lo. 






Kita memakir kendaraan di depan Rumah Gadang. Rumah kelahiran Tan Malaka,bergaya rumah gadang ada Minangkabau,berbeda sekali dengan rumah model masa kini yg banyak sekali modelnya,minimalis lah,klasik lah, Eropa lah,apa lah..saya gak ngerti juga.



Rumah Tan Malaka
Keadaan rumah gadang atau museum Tan Malaka memperhatinkan. Beberapa jendelanya terlihat lapuk.Berbeda sekali,ketika saya melihat rumah gadang di kota Padang,yang diberi nama museum Adityawarman yang masih bagus dan sering direnovasi. Keadaan sekitar rumah Tan Malaka terlihat sepi. Hanya terlihat sapi yg lagi asyik makan rumput(iih..sapi gak malu,ya?mkan didepan orang puasa) serta sebuah surau disebelah kiri. Kak sari mencoba membuka pintu.Ternyata pintu masuknya tidak terkunci. Saya pun melarang,kita nanti dulu masuk,jangan slonong boy aja. Nanti kita kena marah. Saya pun berkeliling mencari manusia yang berkeliaran. Akhirnya,saya menemukan ibuk2 yg lagi asyik mencuci. Saya pun mendekati dan bertanya, bagaimana dan minta ijin kepada siapa agar bisa masuk ke rumah kelahiran Tan Malaka.Ibuk2 itu menunjuk sebuah rumah, dan yang punya rumah tersebut merupakan keturunan Tan Malaka. Saya pun memberitahu kepada Bg Fahmi dan Bg riko. Tak berapa lama, duo abang2 itu datang bersama seorang Bapak dan kemudian mempersilahkan kita masuk.

Akhirnya kita masuk satu persatu. Bapak itu langsung menyapu,karena debu sudah menumpuk dan terlihat jaring laba-laba.Keliatan sekali,rumah ini tak terlalu terurus.Kaus kaki yang saya pakai,mendadak hitam karena debu,kayak kaus yg gak dicuci sebulan..#lebay. Berhubung lantainya dari kayu,saya berjalan harus hati-hati,takut lantai papanya jebol.
Pada 21 Februari 2008,rumah Tan Malaka resmi dijadikan Museum dan Pustaka. Dan kepemilikannya diserahkan Pemerintah.



Saya pun berbicang2 dengan Bapak itu (aduhh..namanya lupa pula..maaf,yee..kpala hbis kjdot tiang listrik..)pokoknya bapak itu keturunan Tan Malaka jga. Saya menanyakan jumlah pengunjungnya tiap bulan. Kata Bapak itu,tiap hari ada yg datang,walau satu2. Pernah juga datang dari Jakarta,bahkan menginap di rumah gadang ini. Sepertinya,suatu saat kita coba menginap disini dan bawa tenda. Soalnya saya belum mengulas tuntas tentang sosok Tan Malaka. Selain itu,Bapak itu juga bilang.Susah mencari pejabat atau orang jaman sekarang yang pemikirannya seperti Tan Malaka.Ketika Bapak itu bicara seperti itu,saya nyeletuk “Bener bgtz tu Pak,sekarang itu pejabat2 mikirin harta dan tahta” Bapak itu tersenyum dan mengiyakan pendapat saya. Pemikiran Tan itu tertuang dalam buku “MADILOG”,isinya detail bgtzz. Bapak itu kemudian,mengeluarkan buku Madilog dari dalam lemari,saya pun membacanya sekilas sambil mendengarkan Bapak itu bercerita dengan yg lainnya.

Baru membaca sekilas saja,saya sudah kagum dengan pemikirannya.Isinya komplit bgtz. Ada ilmu Matematika,Kimia,Seni,Alam,Astronomi,Sejarah dll. Gak nyangka ada orang pintar jaman dulu,sehebat Tan Malaka. Trus,saya tak habis pikir,kenapa buku ini sempat dilarang beredar.Padahal isinya,gak ada yg aneh2 apalagi sampai mengarah ke paham komunis,isinya emang murni pemikirannya.Saya mencoba mencek di Goodreads,Madilog ini termasuk buku non fiksi terbaik sepanjang masa,bersanding dengan buku2 lainnya seperti Catatan Seorang Demonstran by Soe Hok Gie, Di Bawah Bendera Revolusi by Sokarno,Catatan Pinggir by Goenawan Mohammad,dll. Ketika saya membaca Madilog,serasa membaca buku pelajaran.Apalagi yg ada rumus kimia sama rumus matematika..heuheu.. kepala saya mendadak dipenuhi bintang-bintang. Ini menurut saya lo..bisa jadi pendapat teman2 berbedaa..smga kita bisa menghargai perbedaan itu..

Walaupun rumah Tan Malaka ini aset daerah,tapi perhatian pemerintah sedikit sekali. Kata Bapak itu lagi, Pejabat atau pemerintah mengunjungi rumah ini saat mereka kampanye saja,trus mengobral janji2 untuk merenovasi atau apalah. Semua janjinya itu tak ada yg ditepati. Malah pihak swasta yang lebih perhatian,kemaren ini ada bantuan dari pihak maskapai penerbangan swasta. Sepertinya,rasa menghar
gai "Pahlawan" masih kurang,mungkin saya juga termasuk..padahal mereka adalah sosok yang telah memperjuangkan kemerdekaan ini..

Ini lo..keadaan didalam museum dan pustakanya..



Ngisi absen dlu,yaa..

Ketika rumah ini sudah dijadikan Pustaka dan Museum. Ternyata yang berkunjung dilarang membaca buku tentang Tan Malaka. Bapak itu pun protes. Buat apa dibuat pustaka,kalau dilarang baca buku,untuk apa buku kalau cuma dilihat doank. Sepertinya,banyak pihak2 yang takut kalau buku2 tentang Tan Malaka dibaca. Selain itu,ketika jaman orde baru,mereka dicap keluarga PKI. Mereka menantang orang2 yg menuduh mereka untuk membuktikan,buktinya sampai sekarang tak terbukti.

Bagi yang berkunjung ke Rumah Tan Malaka tidak dipungut biaya. Tapi,kami memberi sedikit uang,bapak itu menolak.Setelah dipaksa,akhirnya diterima juga. Jalan menuju Tan Malaka sudah diaspal. Kalau dari Padang ada minibus yang langsung lewat di depan Museum,mobil itu berangkat pukul 13.00 WIB dari Padang.Minibusnya cuma sekali sehari melewati museum ini. Kalau berangkat diluar jadwal itu,naik bus sampai ke Suliki,trus nyambung mobil lagi atau naik ojek.

Ini sedikit ulasan tentang Tan Malaka yang dikutip (ngutip kok pnjang amat,seh yura??) dari http://gilanghelindro.blogspot.com yg empu blog ini,sekampung dengan Tan Malaka.
     Tan Malaka dilahirkan di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, dengan nama Ibrahim. Belum ada data pasti ihwal tanggal kelahiran Tan Malaka. Banyak yang menyebut ia dilahirkan pada 19 Februari 1896, namun ada pula yang merunut bahwa angka lahir Ibrahim Tan Malaka tanggal 2 Juni 1897.
Ayahnya bernama Rasad, berasal dari marga Chaniago. Sedangkan ibunya bernama Sinah, berpuak Simabur. Konon, leluhur ibunda Ibrahim berasal dari Kamang,Bukittinggi. Sedangkan moyang sang ayah datang dari Bonjol, utara Payakumbuh, yang melarikan diri ketika Perang Paderi meletus.
Ayah Ibrahim adalah seorang pegawai rendahan, bekerja sebagai manteri suntik dan petugas yang mengatur distribusi garam di kampungnya. Gaji sang ayah yang hanya belasan gulden, masih sulit untuk membiayai keluarga. Karena keterbatasan itulah, Rasad hanya mampu menyekolahkan Ibrahim ke sekolah dasar Kelas Dua, sekolah milik pemerintah colonial Belanda untuk anak rakyat kebanyakan.
Berkah bagi Ibrahim, meski dikenal agak nakal, otaknya cukup cemerlang. Karena itu lah guru-guru di sekolahnya merekomendasikan agar ia melanjutkan pendidikan ke sekolah guru negeri untuk guru-guru Bumiputera di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi). Sekolah ini satu-satunya lembaga lanjutan bagi lulusan sekolah Kelas Dua setelah menempuh pendidikan selama lima tahun.
Kesempatan ini justru menjadi buah pikiran tersendiri bagi Rasjad, mengingat kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sekolah di Fort de Kock itu terkenal dengan sebutan “Sekolah Raja.” Artinya hanya anak-anak dari kalangan bangsawan  mengenyam pendidikan. Untungnya Ibrahim salah satu murid kesayangan di sekolah sebelumnya, dan mereka terus berjuang agar Ibrahim dapat diterima di “Sekolah Raja.”
Segala cara dimaksimalkan agar tujuan mulia itu bisa terlaksana. Asal-usul keningratan ibunda Ibrahim ternyata dianggap cukup untuk alasan mendaftar. Moyang sang ibu adalah salah satu pendiri Pandam Gadang dan juga membawahi beberapa datuk. Peluang Ibrahim terbuka bukan karena itu, tapi karena kecerdasannya yang menjadi nilai lebih. Meski Ibrahim terkadang berlaku bandel, ia sangat gemar menghabiskan waktunya untuk bermain sepakbola.
Ibrahim berhasil diterima menjadi siswa di Sekolah Raja. Inilah perantauan pertama Tan Malaka keluar dari kampung halamannya. Di lingkungan yang baru, Ibrahim berkenalan dengan budaya bangsa yang menjajah negerinya. Ia mulai mendalami bahasa Belanda. Ibrahim juga menyibukkan diri dengan bergabung menjadi anggota orkes sekolah yang dipimpin oleh Gerardus Hendrikus Horensma, seorang keturunan Belanda yang menjadi guru di Sekolah Raja.
Setahun sebelum ia menyelesaikan pendidikan. Ibrahim dipanggil pulang ke tanah kelahirannya sekitar tahun 1913, umurnya pun belum genap 17 tahun. Keluarga punya rencana lain. Diadakan rapat adat untuk memilih Ibrahmi sebagai datuk. Ia merupakan anak lelaki tertua keluarga Simabur, itu berarti ia harus bersiap-siap memangku gelar datuk sebelum ayahnya wafat. Sebagai datuk, nantinya Ibrahim memimpin tiga marga keluarga yaitu Simabur, Piliang dan Chaniago.
Kaum tetua adat dibuat gusar karena Ibrahim dengan tegas menolak penobatan itu. Sampai akhirnya ia diberi pilihan sulit, menolak gelar atau menikah. Takut menikah diusia muda, Ibrahim angkat tangan dan terpaksa menerima gelar tertinggi dalam adat Minang itu. Maka nama lengkapnya menjadi Ibrahim Datuk Tan Malaka. Pesta penobatannya digelar besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam.
Namun, pesta suka cita itu ternyata berujung perpisahan. Ibrahim alias Tan Malaka harus segera meninggalkan tanah kelahirannya untuk hijrah ke negeri Belanda, meneruskan pendidikan sekolah guru di Harleem, pasca kelulusannya dari Sekolah Raja.


Ia dapat beasiswa atas jasa baik G Horensma. Sebelumnya, upaya Ibrahim untuk bisa pergi ke Belanda terbentur masalah biaya. Padahal orang sekampung sudah patungan kumpulkan uang, tetap saja tak cukup.
Ternyata ini lah kisah awal berkelana Tan Malaka. Dari Nagari Pandam Gadang, Tan Malaka beringsut ke Bukittinggi untuk kemudian siap mengepakkan sayap menjelajahi semesta. Tujuan Tan pertama adalah Harleem University.

 Rencananya, pihak keluarga dan panitia akan mendirikan monumen Tan Malaka di Payakumbuh serta Pusat Studi Pelatihan dan Pendidikan yang diberi nama “Tan Malaka Institutes” di Pandam Gadang tempat desa kelahirannya.

Cuaca pun mendadak mendung. Kitapun harus segera pulang dan berpamitan.Padahal masih banyak yang mau ditanya tentang sosok Tan Malaka. Pukul 16:30 kita pun meninggalkan kampung halaman Tan Malaka. Sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Bukittinggi,kita berbuka puasa dulu di Kota Payakumbuh. Selesai shalat Maghrib,kita melanjutkan perjalanan menuju Bukittingi..

eeh,tunggu dulu yee..masih ada lanjutan cerita perjalanannya..pasti pada penasaran kan??tungguin aja yaaa...:D 

56 komentar:

  1. waaaahhh...
    Aul sering ke bukittinggi tapi belum tau ada museum ini lho kak..

    Jauh ya kak dari jam gadang?

    Nice reportase :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya aul jgn main k kbun bntang aja..makanya gak tau..hehe

      lumayan lah, 1,5 jam dri Bukit. Mseum ini msuk Kab.50 kota aul..:D

      Hapus
  2. manteb banget tuh air terjun tapi sayang ga di foto dari dekat

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa donk..
      ada kok fotonya..tpi mau ditmpilkan pda crta slnjutnya..
      makanya,jgn kemana2..liatin aja ne blog..hehe

      Hapus
  3. nyesel gua ga ikut wktu itu, yur.. bukunya ada ga d gramed? penasaran jg gua baca bukunya
    palagi, suku gua jg chaniago. hoho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah,jgn pke nyesel pla lah.itu lbih pnting..klo ada waktu ksni lgi..
      lum pernah liat lung..tpi gw ada soft ny kok..klo mau,ntr dikasih..

      ohw,chaniago suku lw,ya..?baru tau..:D

      Hapus
  4. ya...masih aja ada misteri kematian Tan Malaka ya .....
    serasa menjadi petualang ...

    sayang, tak diperhatikan bangunannya ys ..., tak seperti rumah Buya Hamka dan bung Hatta yang apik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak..kmtiannya kn msih misteri smpai skrg..

      mgkin krn ada unsur PKI nya,mkanya rmh tan malaka agak dicuekkin mbak..lgian rumahnya sdkit jauh trplosok,mgkin mikirnya,plingan sdikit j yg mau brkunjung..

      Hapus
  5. Rumah tan malaka di jadian museum ya ...
    Seru ngebacanya , yg pasti masih ada rasa penasaran gue tentang tan malaka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa bek..sklian jdi pustaka..

      ane jga masih pnsaran bek..

      Hapus
    2. kalo soal sejarang , kita sebagai bangsa yang baik emang perlu mengetahuinya....

      Hapus
    3. salut deh ama bebek..ternyatA bebek prhatian jga dengan sejarah..
      truskan prjuangan mu bek..aku mendkung mu..:D

      Hapus
  6. kayaknya seru ya ceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..iyaa ne..:D
      jgn smpai ktinggalan ceritanya,yaa..:D

      Hapus
    2. udah dibaca :D tempat yg sawah2 tu mirip dibali :)

      Hapus
  7. ya ampuuun jauh banget tempatnya kalo dari semarang --__--

    tapi poto2 nya Baguus ..
    sedikit ada gambaran sama rumahnya tan malaka ,

    dulu pers kampus gue pernah ngebahas ini .

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha..apalagi klo dari papua,pasti jauh bgtzzz..hehe

      hehe..mkasii,siapa dlu yg moto..#NarsisnyaKumat

      Hapus
    2. papua itu sebelah mana yaaah :D

      haha km yang poto ?
      kok keliatan gimana yaaa -_-

      Hapus
    3. Sbelah kiri upil mu...hehe

      iyaa..aku yg moto..
      kyknya mrgukan klo aku yg moto..ckck

      Hapus
  8. pemandangannya bagus bgt ya.. tp sayang bgt kalo rumah peninggalannya kurang terawat pdhl kan itu bagian dr sejarah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa mbak..kapan2 main ke sini,y mbak..

      yaa bgtu lah mbak..miris jgaa..

      Hapus
  9. postingannya agak panjang nih, ane bookmark dulu deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan agak lagii..pnjang bgtzz malah..hehe
      oke..tpi jgn lupa dibaca,yaa..:D

      Hapus
    2. sudah dibaca huft, panjang banget, kira2 keberadaaanya dimana yah ? pernah waktu itu ada fil dokumenter di salah satu stasiun Tv yang membahas tentang Tan Malaka juga

      Hapus
    3. Aduuh..katanya sudah baca..baca lagi deh..pasti ketemu kbradaannya..hehe

      Hapus
  10. tan malaka tuh ga ada hubungannya sama malaka ya..?
    maap gaptek soal sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak ada hubungannya kok..hnya ada kemiripan nama doank..

      Hapus
    2. kalau sama selat malaka gimana bang ada hubungannya ga :P ?

      Hapus
    3. waduuh..kok dipnggil abang seh??aku perempuan..#NgisDpjokan

      wah..apalagi klo sama selat malaka,gak hubungannya jga...

      Hapus
  11. keren2 foto nya , apalagi aslinya ya ...
    kalo dari tempt saya jauh nih haha .
    kunjungan pertama nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aslinya makin tambah keren..:D
      emg t4 nya dmna??aah..gk msalah,kn ada pesawat.ke amerika aja dekat..klo naik pswat.klo ngesot,bru lama..hehe

      sring2 aja mampir,yaa..

      Hapus
  12. kayaknya lebih panjang postingannya ya, daripada perjalanannya, he he :)

    BalasHapus
  13. salah satu orang yang berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, menurut gue beliau pejuang yang militan dan radikal :)_

    dari banjarmasin ke sana pake ojek bisa ga ya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bner bgtzzz tu..

      bisaa donk..ntr ojeknya naikkin ke kapal,trus naik pswat, insyaallah nyampe kok..hehe

      Hapus
  14. aku malah baru denger Tan Malaka..

    btw fotonya bagus-bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok buku disana dilarang dibaca?
      jadi pgen ksana deh,pgen lihat lansung museumnya.

      Slam knal,.

      Hapus
    2. @Risah :msak seh??yg pnting skrg kn udah denger..:D

      @Robi :mungkin takut trpngaruh sma pmkiran tan malaka. tpi skrg dah boleh kok..
      ayoo..ksnii ajaa..

      slam knal jga yaa..:D

      Hapus
  15. baru dengar juga nih tan malaka...
    btw aku sering liburan ke sumbar loh, maklum dari pekanbarukan banyak maen2 kesana :D..hehe
    salam kenal :) ,,,kunjung balik ya :D hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sob, iva juga bru dengar padahal sering main ke sumbar..hhe
      warga pekanbaru juga ya??
      salam kenal ya dn slam knal jg buat yura
      >_<

      Hapus
    2. Fian :wah..msak seh??cba deh buka buku pljran sejarah..biasanya ada namanya ditulis walaupun gak detail..

      aku jga sring Pknbru. Pustaka daerah sama mesjidnya keren..:D

      slam knal jga..oke..mlyang k TKP..

      Iva :klo k sumbar lagi ksih tau,yaa..mana tau kita bsa ktmu..:D Slam knal jga..

      Hapus
    3. @iva mairisti :: iya iva, pekanbaru warga labuh baru, dekat sukajadi...wkwk...

      @youra :: iya asli baru dengar, ,maklum aku paling benci sejarah or yg berbau hapalan..enakan hitungan..hahaha.
      yoii, sekarang udah ada fly over lho :D

      Hapus
  16. Kaya familiar tapi gak tahu siapa Tan Malakan itu, btw lumayan seru kayanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. mgkin prnh baca dlm buku sjarah tu atau prnh dngar nama jalan yg pke nama tan malaka..
      ya seh,pnjlasan sosok tan malaka tdak trllu dibhas..

      Hapus
  17. baru ttg tan malaka dr sini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. msak seh mbak??
      smga tlsan ini bsa mncrtakan sosok siapa tan malaka..dan kita tdak mlupakn org2 yg brjuang untuk bangsa ini..:D

      Hapus
  18. kita bangsa yang hanya bisa membangun, tapi belum bisa merawatanya...demikian juga terhadap museum tan malaka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bgtzz Mas..
      menjaga yg sudah ada itu memang susah..

      Hapus
  19. info yang sangat menarik dan bermanfaat ^_^ semoga bangsa ini tidak melupakan Tan Malaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasiii..jdii trharuuu..hehe #MndadakGR
      bner bgtz mas..dan mnghargai jasa2 phlawan..:D

      Hapus
  20. wah museum :'), keren ya, pengen deh sekali kali ke sana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa..syang krg diprhtikan.klo diprhtikan,pasti makin keren..hehe

      Hapus
  21. seperti bisanya, yang namanya museum di indonesia pasti ditelantarkan sama pemerintah. well, tugas kita - kita para travel blogger untuk ikut melestarikannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..miris skli y Mas..pdhl itu saksi sejarah yg hrus dlstarikan..

      setuju Mas..klo nunggu pmrntah,klmaan.kita aja yg mlai brgerak..hehe

      Hapus
  22. ingat tan malaka jadi ingat juga Madulong ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf Mas..bkan madulong..tpi madilog...:D

      Hapus

Buruaan komentar..selagi gratis..:D