Kamis, Januari 02, 2014

Lempar Dakuw, Kau Kugigit

Kalau menceritakan masa kecil, gue jadi senyum-senyum sendiri kayak orang habis menang togel berjeti-jeti. Berhubung gue termasuk tipe anak cewek yang gak bisa diam, cuma di WC aja gue bisa diam dan kalem kayak lembu (eh?).

Waktu gue kecil *emang lu pernah kecil juga, ya Yura?* sehari saja gak bermain bersama teman-teman itu, rasanya kebahagiaan gue sebagai anak-anak kurang afdol, ibarat makan sayur tanpa sayur *mulai gila*.

Ya sih, gue harus pandai-pandai mengatur jadwal main dan tugas jagain adek. Maklum Mama ngajar, jadi sebelum Mama pulang, gue mendadak berganti profesi menjadi baby sitter ngesot. Dan parahnya lagi, kalau Mama sibuk, gue main ama teman-teman sekalian ngajak adik, kadang adek gue bawaanya pengen nempel terus kayak perangko, jadi gue kapan mainnya coba? *garuk2 panci*.

Mari sejenak kita lupakan cerita di atas *atas mana, yura? Atas Monas!*.
Kembali ke es tong-tong.

jadi pada suatu hari yang cerah. Gue dan sepupu gue Aril (nama samaran) bingung mau ngapain, muter-muter kampung udah, manjat pohon jambu udah, manjat tiang listrik aja yang belum. Berhubung jadwal pulang belum masuk dan kita bingung mau ngapain.

Rencana mau godain preman kampung sebelah, tapi gue takut..takut mereka tergoda melihat pesona gue *baskom mana baskom*. Gue berinisiatif ngajak aril ke rumah main boneka (eeehh?).

Saat melewati pohon duit Sirsak. Diatas pohon itu kita melihat ada sarang tawon yang bergelantung dengan indah. Berhubung gak ada kerjaan, padahal sudah melamar pekerjaan sana-sini, tapi belum ada juga perusahaan yang menerima kita. Emang lu bisa apa, Yura? Bisa membuatmu cinta padaku..eaa..*disorakkin warga sekampung*

Karena jiwa gue ada bakat menjadi atlit lempar upil, maka gue mengambil batu dan mencoba kebolehan gue membidik sarang tawon bersama aril. Kita bergantian saling melempar batu. Lemparan kita banyak meleset, satu dua lemparan mengenai sarang, si tawon masih adem ayem dan belum menunjukkan perlawan. Kayaknya si tawon lagi maskeran, deh! Makanya, mereka belum melawan.

 Ternyata kesabaran si tawon ada batasnya juga,Tak disangka tak diduga, si tawon pun keluar dengan jurus membabi buta tanpa ampun DJ . Kita mencoba menutupi muka dan melindungi diri.
 Tapi percuma saja Sob! si tawon berhasil mencium kepala gue, sebagai bentuk kasih sayangnya. Ondeh mandeh..sakit Mak..huhuhu

 Efeknya, kepala gue menjadi benjol seketika. Sepupu gue juga dapat jatah ciuman,tapi gue lupa dicium disebelah mana. Ya udah, lupakan saja. Yang lalu biarlah berlalu, mari kita cari pacar baru (lha??).

Sejak itu gue gak mau mengusik apapun. Kejadian itu membuat gue belajar, kalau gak mau diganggu jangan ganggu, nanti kena tinju sama personil Suju.

Buat saudara-saudara gue sebangsa setanah air, dimana pun kalian berada. Jangan contoh perilaku aneh gue kalau gak mau kena batunya. Bener  kata pepatah, apa yang dituai itu yang dipetik. Jadi, kalau mau mendapatkan hasil yang baik, mari kita semai benih kebaikan juga.

Salam kuperrr…*lambaikan tangan ke kamera*

Rabu, Januari 01, 2014

Air atau Minyak Tanah

Saat salah satu Tweet dari Bang Soyid melintas di timeline, seketika itu membuat gue tertarik becak untuk mecoba tantangan menuliskan cerita kebodohan masa kecil. Mungkin karena urat malu gue sudah putus, makanya tertarik menceritakan aib sendiri. Hasemeleh. Sebenarnya, waktu kecil gue pinter pakai banget, menurut tetangga gue lho.. (semoga gak ada yang percaya). 
Ditambah lagi kondisi blog gue, selama tahun 2013 sering dianggurin, saking sering dianggurin blog jadi banyak ditumbuhi rumput yang bergoyang caisar dan semak belukar. semoga dengan mengikuti proyek menulis 30 hari ini, bisa membuat gue lebih konsiten menulis. Doakan gue ya permirsa..*lambaikan tangan ke kamera*.

Mencoba membuka dan mengobrak-abrik memori waktu kecil tak semudah ngupil pakai jari kelingking. Ternyata bener-bener menguras bak mandi. Jadi, gue mencoba memulai mengingat dan menceritakan hal-hal kecil yang dialami yang tidak terlalu menguras otak. Apakah ini termasuk kategori cerita bodoh atau enggak, gue juga gak tau, yang penting ikutan..maksa banget, ya?? hehe..Cekidot..Selamat makan..

Ceritanya begini *benerin jilbab dan pakai maskara*, Saat gue masih unyu-unyu dan menggemaskan kayak peti kemas, waktu gue masih kecil, Mama mengontrak sebuah rumah yang bertepat di sebelah sekolahnya bersama dengan seorang temannya yang sudah berkeluarga juga. Kebetulan dapur kita satu atap. Jadi, kita saling mengetahui, kita masak apa dan makan ama siapa (eh?).

Entah karena gue saking pintar dan rajinnya, melihat kelapa yang sudah diparut di dalam baskom kecil milik teman Mama, tiba-tiba gue langsung menyiramkan minyak tanah ke dalam parutan kelapa yang sudah siap untuk diperas dan diambil santannya. 
Seharusnya, bukan minyak tanah yang dicampur, tapi air. Mungkin karena saat itu minyak tanah masih murah, jadi gue mencoba bereksperimen mencampurkan minyak tanah ke dalam parutan kelapa. Kira-kira gimana, ya..?? gulai rasa minyak tanah. Penasaran? Silahkan coba sendiri..!! :D

Demi menciptakan kerukunan antar tetangga, karena ulah gue, Mama terpaksa mengganti sebuah kepala eh salah..kelapa kepada temannya. Ini ceritaku mana ceritamu?? *nyegir kuda*

Minggu, Desember 22, 2013

Lain Gunung, Lain Ceritanya

Setiap gunung yang didaki, plus bikin badan banyak daki, selalu ada saja cerita yang berbeda yang bikin saya ketawa-ketiwi sendiri. Idih..Yura gila ya, sekarang??

Saya mulai tertarik dan diajarkan plus diracuni mendaki gunung, sekitar tahun 2009. Itu karena dekat ama teman yang anggota Mapala di kampus saya. Kalau saat itu saya dekat dan mainnya ama Nikita Willy, bisa jadi saya sekarang sudah aktris kejar tayang dalam sinetron sandal jepit yang tertukar. Kalau saja saya dekat ama annisa chibi, bisa jadi sekarang saya sudah jadi member AKB48 *eh?* (Yura mulai ngawur..Yura mulai ngawur..)
Namanya juga jalan-jalan ke gunung, jadi banyak hal tak terduga yang bisa terjadi diluar kendali kita.

Waktu pendakian pertama, saya dengan teman-teman yang lainnya mencoba mendaki gunung Marapi. Hal yang tak terlupakan buat saya, ketika saya dan Mia berdua dalam satu sleeping bag. Saat itu, teman saya Hendra, lupa membawa sleeping bag, dan kita takut hendra kedinginan dan bisa-bisa ia kena hipotermia. Saat itu lah kepedulian kita teruji. Apa kita tega melihat teman seperjuangan dan teman sama-sama mendaki dari bawah, merasa kedinginan. Berhubung, badan saya kerempeng kayak tangkai sapu, dan Mia badannya imut kayak marmut (piss mia \/). Jadi, kita memutuskan untuk satu berdua dalam sleeping bag. Ternyata perjuangan masuk ke dalam sleeping bag bener-bener ruaarrr biasaaa. Walaupun badan kita sama-sama imut, tetapi tak semudah itu untuk menutup resleting. Jika sobat pernah berusaha menutup reseleting tas yang isinya sudah sangat padat sekali, seperti itulah perjuangan Hendra untuk menutup resleting sleeping bag kita. Karena saking romantisnya saya dengan Mia ( romantis apa kesempitan tu jeng?), ujung-ujungnya kita kepanasan kayak jagung rebus. Kepanasan cyiinn...AC mana AC..

Kita tinggalin cerita diatas, lain lagi ceritanya waktu saya mendaki Gunung Singgalang. Penasaran ya? Sama, saya juga penasaran. Saya harus mencoba minum air putih yang dicampur dengan minyak kayu putih. Kebayang gak gimana rasanya?? Kalau penasaran coba aja..hehe. Saat itu, Bang Anto tengah malam sakit mual-mual plus muntah-muntah. Padahal ia kelihatan baik-baik saja dari awal dan semangat kali pas nanjak. Bukan kayak saya, yang keseringan kecapekan. Kebetulan, cewek yang ikut hanya ada saya dan Kak Yandhi, jadi kita harus rela bangun tengah malam untuk memasak air panas. Ngeliat Bang Anto mirip bumil yang terus mual-mual, saya sudah rela kalau gagal ke puncak untuk besok paginya. Hikss. Tapi, saya masih berharap bisa muncak besok pagi.hehe. 

Daripada mual-mual terus, Kak Yandhi menyarankan mencoba minum air yang dicampur sama minyak kayu putih. Apaa??. Berdasarkan pengalaman Kak Yandhi, ini pernah dilakukannya dan tidak ada efek samping. Kita pun berusaha membujuk Bang Anto untuk minum air ramuan ala Kak Yandhi. Bang Anto menolak. Kita kan takut Bang anto kenapa-kenapa, di atas gunung ini gak ada klinik bersalin ( emang ente mau ngapain, Yura??). Untuk meyakinkan Bang Anto, terpaksa kita bergilir mencoba meminum air kayu putih. Ondeh mandeh. Jauh-jauh ke gunung hanya untuk minum seteguk air berasa minyak kayu putih. Sedikit lebih baik, sih, daripada minum air sambil terbayang wajah mantan. Nah lho?? ( Mantan majikan, ya, Yura?)

Setelah, kita berdua meminum air tersebut dan tidak kejang-kejang, baru lah Bang Anto mau meminum air tersebut. Oalaah..buat anak kok coba-coba. Keesokan paginya, Bang Anto sudah oke lagi, akhrinya kita bisa muncak juga..Horraiii...
(Yang mau coba ramuan ini, silahkan, harus dibawah bimbingan orang tua, ya..)

Marapi udah, singgalang juga udah. Lain lagi cerita waktu ke Gunung Kerinci. Padahal tenda ada 3 buah dan sudah dibagi-bagi tiap tenda 3 orang. Karena badainya yang super dahsyat. Kita langsung menyerbu tenda Bang Jamie. Tenda yang isi maksimalnya 5 orang, dimuat-muatin jadi 6 orang. Kalau orangnya mirip kurcaci bisa muat kurcaci sekampung.

Dalam tenda berasa mirip ikan sarden. Bergerak aja susah, apalagi salto dan guling-guling. (Helloo..kalau mau guling pindah aja ke lapangan bola Neng!!).
Ya begitu lah kalau naik gunung, ada-ada saja hal yang membuat perjalanan makin berkesan dan tak terlupakan.Tsaah.

Kalau begitu, nanjak kemana lagi kita ne?? ;)


Sabtu, Desember 14, 2013

Yang Sabar Ya..

Saat diberitahu oleh teman saya, sebut saja namanya Bunga.  Bunga adalah teman saya waktu masih pakai putih abu-abu beberapa tahun yang silam. Pernah jadi teman sekelas, teman sekamar dan satu kosan. Saya sudah berapa kali main ke rumahnya dan sudah mengenal anggota keluarganya. Beberapa lama kita kehilangan kontak, sebenarnya salah saya juga sengaja menghilangkan diri dari orang-orang terdekat. Hehehe. Tapi, saya masih menyimpan nomor kontaknya. Rasanya, tak perlu lah saya beritahu alasannya. Hahaha *bikin penasaran*.

Beberapa bulan yang lalu, saya mencoba menghubunginya. Bunga merasa senang sekali bisa berhubungan lagi dengan saya. Bahkan Ia juga berusaha menanyakan nomor hape saya kepada teman yang lainnya. Oh My Woow..ternyata ada juga orang-orang yang merindukan dan mencari-cari saya, ya? Kirain cuma Densus 88 aja yang nyarin saya..lha? emang situ teroris ya, Yura? (kasih tau isi gak, ya?).

Sekitar 2 minggu yang lalu, menghubungi saya dan menceritakan kalau Mama nya mendadak terkena kanker payudara. Saat itu bunga memberitahu sms, saya berasa kesentrum kena tegang listrik tegangan tinggi yang membuat saya terdiam, gak tau apa yang mau dibalas.

Terbayang beberapa tahun yang lalu saat mampir ke rumahnya, Mamanya dengan tubuh sehat, tinggi dan semangat bekerja. Tak menyangka, akan mengalami hal ini. Ternyata bukan saya saja yang terkejut mendengarnya, mereka sekeluarga juga terkejut dan tidak menyangka. Selama ini, Mama bunga menutupi dan tidak memberitahu benjolan yang terdapat Payudaranya, saat benjolan itu menimbulkan rasa sakit, baru beliau memberitahu anak-anaknya. Setelah dicek ke dokter, ternyata positif kena kanker payudara. Hiks


Terdiam cukup lama, entah kenapa saya terlalu berat menuliskan “Yang sabar ya Bunga..”. Rasanya, tak semudah itu saya menuliskan sabar. Kata sabar itu memang gampang menuliskannya, tetapi kenyataannya sabar itu bener-bener berat dijalani. Saya mencoba kembalikan pada diri saya sendiri? Apa saya bisa dengan mudah bersabar saat Mama saya yang mengalami hal itu?. Hikshiks

Saya mencoba menguatkan Bunga, dengan membalas pesannya “ Berdoa yang banyak, semoga sekeluarga diberi kekuatan tuk menghadapi dan Mama diberi kesembuhan oleh Allah SWT”. Semoga dengan doa yang terus dipanjatkan kepada sang pencipta, mereka sekeluarga diberi kekuatan dan kesabaran menjalani semua ini. Bukankah kita, sebagai manusia menjadi shalat dan sabar sebagai penolong.

                                                                                                وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat (QS. Al Baqarah: 45)

Bunga merasa hidupnya sekarang ini terasa berat dan tak menyangka ini akan terjadi kepada keluarganya. Sebagai manusia, saya hanya bisa menguatkan, bahwa semua yang terjadi karena kehendak yang kuasa. Walaupun begitu, Bunga masih berfikir, Tuhan pasti punya rencana baik untuk ia dan sekeluarga.

Semoga apapun yang kita alami, kita bisa mengambil sisi baik disetiap kejadian yang ada.

Rabu, Desember 11, 2013

Malas Bertanya, Salah Masuk Busway

Jadi ceritanya begini, saat berkunjung ke kota Pekanbaru dua bulan yang lalu. Ngapain ke Pekanbaru Yura? Mau ngembangin usaha pergembelan di sana..(???).

Pinjam dari sini 

Atas usulan sepupu saya, Uni Sari, saat kita bertiga mampir ke rumahnya di daerah Panam. Jadi kita bertiga saya, Meli dan Cakni mengiyakan. Kapan lagi kan?. Kita pun diantar ke halte busway. Tak lama menunggu, busway yang ditunggu datang juga. Saat masuk kita disambut sama mbak-mbak kondektur busway. Kami langsung memilih posisi wueenakk..

Setelah berjalan berapa lama di atas busway, si mbak-mbak menanyakan
 “turun dimana dek?”
“Ramayana, Kak”
“Nanti transit di halte..( maef, lupa nama tempatnya).
“Oke deh”.
Akhirnya, kita turun juga di halte yang dimaksud. Ada sedikit kecewa sih. Kirain, ada busway langsung ke Ramayana gak pake transit. Saat dibilang Uni Sari, katanya ada busway langsung sampai Ramayana cukup bayar Rp.3000 plus ruangan ber AC. Mungkin karena kita terlalu jenius, jadi gak ada nanya busway pake transit dulu atau gak.

Semua penumpang pada turun. Kita juga ikut turun lewat jendela. Kita pun langsung nongkrong-nongkrong cantik di halte bersama penumpang yang lainnya sambil menunggu busway selanjutnya.
Sekitar 2 busway sudah lewat, tak ada satu pun bus yang ngelirik kita. Apakah ada yang salah dengan tampang saya? Ciyaann deh loo..Mungkin karena kelamaan menunggu, tiba-tiba Meli berdiri di depan tangga naik masuk busway dan melangkahkan kaki masuk ke dalam. Saya yang berada di belakangnya, ngikutin aja.

Setelah duduk manis di pangkuan Zyan Malik (eh?) *abaikan*. Tiba-tiba kita ditanyai oleh Abang Kondektur busway.

“Turun dimana dek?”
“Ramayana Bang”
“ Bukan ini busnya dek..silahkan turun di halte berikutnya”
 
Setelah nepuk-nepuk jidat tetangga, akhirnya kita turun dan kembali menunggu busway berikutnya kita langsung bernyanyi di atas troatar menyanyikan “ busway yang kutunggu-kutunggu tiada yang datang, kutelah lelah berdiri-berdiri menanti-nanti (lanjutkan sendiri langunya)”. Ada yang percaya kita ngelakuin hal itu? Selamat anda dikibulin..hehe

Belajar dari kesalahan, karena Meli saat menaikki busway langsung nyelonong girls, jadinya salah deh. Daripada gak salah lagi, saya selalu menanyakan setiap bus yang lewat. Sekitar 3 bus yang lewat tak ada yang melewati Ramayana. Saya hampir mengibarkan bendera putih.

Saat itu ada 2 orang penumpang perempuan yang duduk di halte busway. Setelah saling dorong-mendorong siapa yang berani menanyakan mereka mau kemana, kali aja kita satu arah. Ya udah, kita memutuskan berbagi tugas.

Dengan memasang muka angry birds (??) , saya menanyakan kepada perempuan di sebelah saya, ternyata arah kita berbeda. Tak berapa lama, perempuan di sebelah saya langsung pergi dan naik ke atas motor. Jadi kesimpulannya, Ia nongkrong di halte busway nunggu jemputan pulang. Ciyaaann...Setelah itu, perempuan di sebelah Meli pun beranjak dari tempat duduk saat sebuah mobil datang, ia langsung masuk ke dalam. Apaa?? Trus gimana nasib kita??



Jadi kesimpulannya, dua perempuan yang nongkrong bareng kita di halte bukan nunggu busway, ternyata mereka pada nunggu jemputan. Pantesan tampang mereka adem ayem bayem aja. Gak kayak kita, celingak-celinguk plus H2C nunggu busway datang. Hari semakin sore dan busway yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, walaupun ada yang lewat tapi beda jurusan cyiin.

Berhubung, saya sehabis magrib harus segera pulang ke Padang, dan sepupu saya Meli juga sudah ada janji ketemuan dengan temannya. Dengan sangat terpaksa, berharap bisa dapat ongkos murah plus AC, ujung-ujungnya naik angkot juga..tidaakkk.. *garuk-garuk aspal*.

Masak jauh - jauh dari Padang, kita naik angkot juga, sih? Trus, masalah buat tetangga elo githoo?? * mulai stress*.
Begini deh akibatnya, malas bertanya salah naik busway, syukur gak nyasar kemana-mana.
Keep Smile..*nyegir kuda*

Sabtu, November 30, 2013

UPSS..Keep Calm Pak..!!


Apa karena matahari bersinar dengan teriknya menyinari kota Padang..??(bisa jadi..bisa jadi..) Apa karena orang pada sering makan makanan yang banyak mengandung kolesterol?? (bisa jadi..bisa jadi..). Aduh..kok saya mirip orang senewem gini, ya? Bertanya sendiri jawab sendiri..bobo sendiri, makan sendiri..ckckk..kasihan amat lu mblo…(eh?)

Jadi sebenarnya, kamu mau cerita apa , Yura? Jangan muter-muter kayak setrikaan aja donk!

Jadi, ceritanya begini. Sebagai angkoters sejati yang kemana-mana suka naik angkot, sampai-sampai tampang udah mirip kenek angkot (??). tragis amat ya? Jadi, saya banyak mengalami pahit manisnya naik-turun dan dorong angkot.

Bagi yang pernah mampir ke kota Padang, mungkin sudah tau kalau kawasan pasar raya Padang, itu salah satu pusat kemacetan kota Padang. Semua orang berdesak-desakan. Mulai dari angkutan umum, pribadi, sampai odong-odong (eh??).

Saat itu, kebetulan saya sendiri dalam angkot. Pak sopir memberitahu dan meminta ijin kalau dia masuk pasar dulu, sekalian nyari penumpang. Rasanya gak pantas juga, jika saya melarang untuk melewati pasar. Nanti pendapatan pak sopir berkurang. Kasihan, nanti anak dan istrinya makan apa?. Gak mungkin kan, saya yang nanggung biaya hidup pak sopir dan keluarga.

Saat melewati gang sempit, semua kendaraan yang lalu lalang berebut untuk saling mendahului. Kesabaran pengemudi bener-bener diuji nyali.

Entah kenapa,mungkin karena saya sibuk perhatikan sana-sini, tiba-tiba saja ada motor lewat di samping angkot yang saya tumpangi. Saya langsung mengalihkan pandang ke depan, terlihat pak sopir badannya sedikit miring untuk melihat kaca spion sebelah kiri.

Tak ada hujan tak ada badai, Bapak pengendara motor yang lewat di samping angkot mendadak polotin matanya sambil nantangin pak sopir. Saya kurang jelas apa penyebabnya. Menurut pengamatan saya, saat pengendara motor mencoba memotong angkot, sepertinya angkot nyaris tersenggol, makanya, bapak sopir angkot langsung mengecek keadaan angkot lewat kaca spion. 

Saat berpapasan dan saling menatap, mereka langsung jatuh hati..Upss salah..( ini bukan sinetron Neng..) Bapak pengendara motor langsung nyolot dan marah-marah gak jelas. Sependengaran saya, bapak sopir angkot tidak ada mengeluarkan kata-kata pedas dan kotor.

Seketika itu, bapak pengendara motor langsung maju ke depan dan memarkir motornya dan turun menghampir sopir angkot. Saya yang berada dalam angkot mendadak jadi takut. Jangan sampai bapak pengendara motor memecahkan kaca angkot atau tindakan kekerasan lainnya. Tidaaak...Mama save me..!!

Dengan cepat pengendara motor ini menghampiri bapak sopir angkot  dan langsung memegang krah baju sambil marah-marah. Si sopir angkot membela diri. Tapi bapak pengendara motor gak gak terima. Kemudian, bapak pengendara motor membuka pintu angkot dan memberikan bogem mentah kepada bapak sopir angkot.

Rasanya, pengen bantu melerai si abang sopir angkot. Tapi saya bisa apa? Tidur aja masih ileran (nah lhoo??) Bisa-bisa saya jadi korban. Saya hanya berdiam diri di pojokkan dan tak bisa berbuat apa-apa.

Melihat keributan di tengah kemacetan, membuat pedagang dan orang di sekitar pasar ikut melerai dan mendamaikan. Walaupun sudah didamaikan, si bapak A tetap gak terima. Saya rasanya pengen jambak-jambak si bapak pengendara motor dan mengeluarkan jurus kamehameha..uhfff…

Ya begitu-lah namanya di jalan raya. Begitu banyak kepentingan orang di dalamnya. Mungkin sesama pengguna jalan harus saling menghargai dan meredam ego masing-masing biar tercipta kerukunan antar pengguna jalan raya * Tsaaah..sok bijak*. Tak lupa juga, pengguna jalan raya harus banyak-banyak download aplikasi sabar, biar gak mudah marah dan ngamuk-ngamuk gak jelas.

~salam kuper
Bye..Bye..

Selasa, November 12, 2013

Copeet...jebreett..jambrett..(???)

Lagi..lagi..saya menyandang status blogger gagal, begitu teganya membiarkan blog lumutan bin karatan, kalau si Blog pacar saya, pasti Ia langsung minta putus. Mana ada orang yang mau dianggurin, makanan aja kelamaan dianggurin bisa jamuran.Tidaak..Bisa jadi..bisa jadi..Sebenarnya, karena ulah si empunya sok sibuk dan bener-bener sibuk. Sibuk molorr (eeh??). Maklum, saya kan sleeping beauty, jadi hobinya molor sampai ada pangeran yang datang *woii..jangan ngimpii..*.

Selamat datang Ember Rain eh..November Rain..

Begini ne efeknya, kalau udah kelamaan jari dan pikiran cuti menuliskan ide-ide di kertas, jadi butuh kekuatan yang besar untuk menuliskannya. -____-
Kale ini, saya akan sedikit menceritakan ke-Apesan saya di bulan lalu..semoga bulan ini tidak terulang lagi. Aamiin..

Rabu, Oktober 23, 2013

Ada apa dengan mu ( sapi )??

Halloo semuanya..sudah lama rasanya, saya tidak menyapa teman – teman yang ngefans berat sama saya
 *Disorakkin warga se kampung*. Maklum, akhir – akhir ini saya punya hobi, suka sibuk dan sok sibuk, jadinya blog suka terabaikan dan tersapu badai, dan badai pasti  berlalu (???) * mulai stress*.

Ternyata, seminggu lebih sudah lebaran Idul Adha berlalu. Umat muslim diseluruh dunia pun tak lupa untuk berqurban, mulai dari kambing, sapi, kerbau, unta, bahkan ada yg qurbanin perasaan..#lha??. Walaupun tahun sekarang baru bisa ngorbanin perasaan,semoga tahun depan bisa qurbanin kambing, sapi and friends.

Ngomongin masalah hewan qurban, ada kejadian unik di kampung saya sejak dua tahun berturut – turut. Pada penasaran, kan??. Hal uniknya adalah, sebelum hari pembantaian, sapi mendadak suka ngamuk dan kabur. Sepertinya, sapi tersebut belum siap untuk dipotong. Mungkin keinginan dan cita – cita si sapi belum kesampaian. Seperti punya mobil mewah, rumah bagus, berkeluarga, naik haji,dan diwisuda. Oke, abaikan saja ini.

Tahun sebelumnya, si sapi hanya sekedar kabur dan melarikan diri. Walaupun  nasibnya berakhir juga oleh tukang jagal. Tahun sekarang, agak sedikit menakutkan. Selain kabur, si sapi ngamuk dan menyundul sana – sini. Sepertinya, si sapi suka lihat om sule goyang sundul, deh.

Seorang anak menjadi korban sundulan sapi, mengakibatkan dibagian kepalanya agak sedikit lunak. Sesama sapi pun ikut kena sundul, sapi tetangga sebelah rumah yang siap untuk dipotong, lagi nyantai diikat di depan rumah mendapat jatah sundulan dari sapi ngamuk. Ckckck
Bahkan mobil yang parkir dan tak berdosa ikutan disundul oleh si sapi..Ternyata si sapi tak bisa membedakan, mana manusia dan benda.


trus, apa kelanjutannya, Yura??


Apa yaa..?? Saya mendadak bingung bin linglung.

Daripada saya bingung dan yang baca juga ikutan bingung, lebih baik kita makan dadar gulung di bawah payung.

Sekian dan aura kasih..*gulung – gulung masuk selimut*