Jumat, Januari 30, 2026

Merawat tuk kehilangan

Karena sejak kecil (1,5th) diasuh Abak dan Amak di kampung, ada satu pelajaran hidup yang berkesan (semua berkesan), yaitu merawat. Karna sebagian (besar) hari mereka dan sampai berpulang ya merawat. Merawat sawah, ladang, hewan ternak dan cucu. Secara tidak langsung mereka menularkan dan mengajari hal itu kepadaku. 

Merawat bukan suatu hal mudah, ada tanggungjawab di dalamnya, tidak bisa sekedarnya, apalagi yang dirawat itu makhluk hidup. Pasti mereka punya rasa.

Seperti yang dicontohkan Amak, Amak setiap datang ke sawah mengucapkan salam "Assalamualaikum" 

lalu pulang berpamitan dengan padi 

" Kami pulang dulu yo, elok-elok di sawah, buruang jan habihan padi kami, tinggaan tuak kami"

Ada sebuah kedekatan yang tak bisa kupahami saat itu sebagai anak kecil. Amak kok berbicara dengan padi? padi kan tidak bisa berbicara. Padi hanya bisa bernyanyi, eh itu grup band Padi ya? 🤭

Selain rasa tanggungjawab yang ada dalam merawat, ada rasa "sayang" yang terus dipupuk. Hal ini berkaitan dengan hati bukan ampela.

Kalau bahas soal hati agak angel, ya? hati-hati dengan hati, pokoknya jagalah hati, jangan kau nodai... (jadi nyanyi, maap)

Kembali ke masalah hati (yang tersakiti) dan berkaca ke diri sendiri. Duh, gimana ya menjelaskannya 🫣

Ada suatu anggapan atau yang diyakini (dulunya), bahwa apa yang kurawat dengan sepenuh hati, mereka akan selalu ada bersamaku. Karna kumerasa, telah mencurahkan dengan sepenuh hati dan mereka tak kan pernah pergi atau mati. Karena sebegitu rapuhnya hatiku, ditinggal mati tanaman, hewan bahkan manusia kubisa begitu sedihnya, kadang merasa kutak cukup baik dalam merawatnya. Duh, air mataku, sudah berlinang 🥹 

Ketika semaian sayur, yang sudah dirawat dengan baik, tiba-tiba diserbu hama, kubisa bersedih. Padahal sudah dipupuk dengan cinta pakai taik kambing. Ketika Beruk kesayanganku sakit lalu mati, kujadi gelisah galau merana, gegana istilah anak jaman now. Ditinggal kucing, soang, ikan, anjing, burung dan ayang ups typo, maksudnya ayam rasanya pun sama. Paling patah hati sampai berkeping-keping, ya ditinggal Amak dan Abak selamanya (mata berlinang lagi)

Rasanya, tuk setiap apa yang kurawat, aku ga pernah main-main dan setengah hati, kenapa mereka pergi. Sampai mempertanyakan kepada Tuhan. Apa aku kurang baik dalam merawat apa yang telah dititipkan buatku? kenapa satu-satu mereka pergi meninggalkanku? 

Ya itu dulu. Perasaan yang muncul saat merasa bahwaku bisa mengendalikan semua hal yang terjadi di hidupku. Merasa berhak mengatur semua menurut mauku. Oh, siapa aku? 

Sekarang bagaimana? Ya terus belajar mengelola hati kok. Soal melapaskan, ada suatu tulisan dari blogger favoritku, kulupa tulisan secara utuhnya. Intinya, untuk setiap yang pergi dalam hidupmu, itu karna emang waktu bersamamu sudah habis. Yaudah. Jadi tak ada yang perlu disalahkan. Memang itu keniscayaan hidup di duniakan? semua ada waktunya. Lama atau sekejap, itu soal waktu saja. 












Sabtu, September 02, 2023

Sesuatu

Suatu hal kecil berharga buat kita belum tentu berharga menurut orang lain. Kenapa begitu? ya karena begitu (hadeh)

Menemukan bumbu masakan khas minang kiriman mama di dalam tong sampah,  Membuatku jadi sedikit tertegun. Kok tega sih?  Bumbu tersebut biasa dipakai saat memasak makanan rumah. Terbungkus dalam plastik agar tetap terjaga aromanya dan di simpan dalam toples. Mungkin karena  bumbu tersebut jarang dipakai, seringnya cuma aku yang memakai. Jadinya menurut yang lain itu tak berguna. Karna tidak tahu cara memakainya. 

Beberapa kali mengalami hal begitu. Sesuatu yang berharga buatku, tiba-tiba dilenyapkan begitu saja, hikshiks (lebay)

Bumbu masakan sesuatu hal remeh-temeh dibandingkan emas berlian. Tapi seru aja mengamati bagaimana manusia lainnya melihat apa yang berarti buatku. 

Butuh kelapangan hati tuk menerima semua yang terjadi sambil menghela nafas, uhfff...(Tarik dan lepaskan) karna ngamuk atau cakar muka tetangga tidaklah berguna. Apa hubungannya coba? 🙈

Kalau ada sesuatu yang tak mengenakkan hati dan body, teringat pesan Amak "Hiduik tu banyak nan diraso" 

Jadi apapun yang terjadi ya "dirasoan" biar " tau raso" 

Hikmahnya buatku : Jadi belajar untuk selalu menghargai apa yang dimiliki oleh seseorang walau sesuatu itu tak berarti di mataku. Selain itu, pelajaran juga buatku, jika sesuatu itu berharga buatku, (semoga) kudimampukan untuk bisa menjaga apa yang telah dititipi kepadaku. Aamiin








Selasa, Juni 06, 2023

(Datang) BULAN

Selamat datang bulan 
Awal bulan datang bulan. Akhirnya meletus balon hijau hatiku sangat kacau kok jadi nyanyi sih?
(Tulisan yg harusnya update di awal bulan, tapi ga jadi) 

Awal bulan datang bulan rasanya itu takjub banget. Bisa pas gitu ya? 

Walau udah merasa tanda-tanda seminggu sebelum datang tamu, tapi rasanya kok lama sekali. Semua serba tidak nyaman. Tidak enak body dan tidak enak hati. Uhhff, tapi mau gimana lagi, tiap bulan harus melewati perasaan dan ketidaknyamanan ini. Ketidaknyamanan ini akan terus datang menghampiri sebelum monopause nanti. 

Segala ketidaknyamanan emang tidak bikin nyaman (mulai ga jelas nulisnya) 

"Yaiyalah anak kecil juga tau" 

Terbesit pikiran ingin menjadi laki-laki. Biar ga perlu ngerasain ini. Haha
Sebagai seorang perempuan, sejak mengalami datang bulan. Kenyamananku terganggu 😆

Tak bisa berlari sesuka hati, perasaan was-was kalau kelamaan duduk, malas keluar rumah dan malas ketemu orang tapi takut juga ketemu setan. Otak kadang lemot, sedikit melow. Piye jal?

Kepala ama hati isinya protes semua
"kenapa aku begini?" 
"Aku mau begitu"
"Aku tak boleh lemot" 

Beberapa kegiatan harus rela dibatalkan karna datang bulan. Naik gunung misalnya 😢 

 "Tulisan macam apa ini? Isinya keluhan semua"

"Tulisan macam inilah, tulisan keluh kesah dan gelisah"


Intinya bukan soal keluhannya tapi soal penerimaan diri. Menerima dan menyadari  bahwa kita tidak pernah baik-baik saja sepanjang waktu. Ada kalanya harus siap terlihat lemah. Ya, tidak apa-apa. Kita tetap sempurna dengan segala kelemahannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan sebagai perempuan.

Kamis, April 06, 2023

Syukur(in)

Sudah lama tak bertukar kabar dengan seseorang nun jauh di mata dekat di sosial media, saya pun mencoba menghubunginya.

 Saya mendapatkan kabar yang tak ingin saya dengarkan. Ya, manusia memang gitu lah ya, selalu siap mendengarkan yang menyenangkan hati saja. Padahal kita harus siap mendengarkan hal yang menyesakan hati juga. Hikshiks

Ia memberitahu bahwa Ibunya sakit yang cukup parah. Mendengar kabar tersebut membuat hening sejenak sambil mencerna apa yang ia katakan.

Seketika itu juga teringat Mama di rumah. Terucap syukur dalam hati bahwa saya dikarunia Mama yang masih sehat (alhamdulillah).

Setelah menyelesaikan percakapan panjang. Saya memilih diam lebih lama dan bengong, serta mempertanyakan rasa syukur yang dipanjatkan.

Kenapa saya bisa-bisanya mengucapkan syukur saat ada seseorang yang diberi ujian yang tak mengenakkan hati? 

Kenapa syukur saya lahir dari perbandingan dengan keadaan orang lain yang tak lebih baik dari saya? 

Bagaimana jika masalah yang dihadapinya saat ini menjadikan ia manusia yang lebih baik dan disayang Allah? 

Masih banyak "bagaimana" yang bergelayut di kepala.

Hingga pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa rasa syukur yang baik itu tidak lahir dari hasil membandingkan kesusahan seseorang yang tampaknya tak lebih baik dari kita. Bisa jadi hal yang sulit dihadapinya hari ini, menjadi kesyukuran dikemudian hari. Tak ada yang tahu, manusia yang suka sok tahu (tempe)

Sejak saat itu, rasa syukur saya perbaiki. menjadi lebih sederhana. 

Ya, bersyukur aja atas apa yang diterima tanpa perlu dibandingkan dengan siapa dan apapun jua. Menganggap segala kenikmatan maupun kesulitan yang datang sebagai sesuatu yang harus diterima dan terbaik buat kita saat ini. Sambil terus mengikhtiarkan hal baik. 

Sudahkah bersyukur hari ini? 


Kamis, Februari 16, 2023

Kenapa?

"Kenapa kembali lagi?"

"Karena ingin"

"Apa yang membuatmu kembali?"

"Ada sesuatu"

Apakah kamu kembali untuk pergi? 

"Liat nanti"


Kamis, September 15, 2016

Menikmati Kesejukan Air Terjun Sarasah Gaduik



Setiap kita ingin mengunjungi Kota Padang, yang terbayang adalah pantainya. Iya kan? Setiap orang yang berlibur ke Kota Padang jarang melewatkan untuk mengunjungi Pantai Padang. Pantai Padang biasanya dikenal dengan Taplau ( Tapi Lauik/ Tepi Laut).  Karena memang jarak pantai dengan pusat kota dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki, jadi tempat untuk nongkrong dan foto selfie ya ke pantai… taplau lagi… taplau lagi….

Tapi, percayalah, Kota Padang bukan hanya tentang laut dan pantai saja… masih banyak pesona yang lainnya, yang luput dari perhatian kamu… iyaa… kamu…. (Maaf, ngawurnya kumat). Ada wisata kuliner, budaya, agama, dan alam. Tapi kita akan bahas wisata alamnya. Mau tau kan?

Kota Padang memiliki Air Terjun lhoo…. Aah masak? 

Iya sih, air terjun yang ada di pinggir Kota Padang ini belum terkenal sekali seperti Air Terjun Lembah Anai dan beberapa air terjun yang ada di Lembah Harau, Kabupaten 50 Kota. Jika ingin mengunjunginya, datang dulu ke Padang, kalau ke Padang Pasir ga akan ketemu air terjunnya. Air terjun itu dikenal dengan Air Terjun Sarasah Gaduik bukan Rumah Sakit Jiwa gaduik… catet ! hehe

Butuh sedikit perjuangan untuk sampai ke lokasi air terjun, karena letaknya di pinggir Kota Padang. Butuh waktu lebih kurang sekitar dua jam dari Pasar Raya Padang  agar sampai ke lokasi, kalau naik angkutan umum dan jalan kaki, kalau menggunakan kendaraan  pribadi, maaf saya kurang tau… hehe… 

Percayalah, sesampai di Air Terjun  Sarasah Gaduik segala kelelahan  dan keletihan akan terbayar lunas. Kita akan menemukan dan merasakan suasana Kota Padang yang berbeda dari biasanya yang berhawa Panas. Sesampai disini, semua terasa lebih sejuk dan menenangkan, apalagi kalau bersama kamu ( uhuukk).

Air terjun yang terdiri dari beberapa tingkat. Tetapi akses yang mudah untuk bisa dinikmati keindahan Air terjun hanya sampai tingkatan kedua. Butuh kekuatan fisik dan stamina agar sampai di tingkatan paling atas.

Jadi, tidak ada alasan lagi jika ke Kota Padang tidak mampir kesini .... Kota Padang punya seribu pesona lho...!

 
Air Terjun Tingkat 1






 

air terjun tingkat 2






































Jumat, September 02, 2016

Memeriahkan Festival Siti Nurbaya 2016



Sejak lima tahun belakangan ini, Kota Padang rutin tiap tahun mengadakan Festival Siti Nurbaya.  Festival yang mengangkat budaya minang yang hampir terlupakan dan ditinggalkan, apalagi bagi generasi muda. Diharapkan dengan adanya acara festival ini dapat melestarikan budaya minang, jangan sampai budaya yang telah diwariskan dari generasi dahulu hanya tinggal nama. Festival ini sekaligus juga ingin menarik minat wisatawan baik asing maupun lokal untuk datang berkunjung ke kota Padang. Hmm… penasarankan apa saja acaranya? Yukk baca aja daftar acara yang akan dilaksanakan…
Berikut Agenda lengkap Festival Siti Nurbaya 2016 :
    1. Pembukaan Festival Siti Nurbaya :
      7 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    2. Karnaval dan Perahu Hias Festival Siti Nurbaya :
      7 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    3. Lomba Salaju Sampan:
      7-10 September 2016 – GOR Dragon boat Venue
    4. Lomba Maelo Pukek :
      9 September 2016 – Pantai Muaro Lasak, jam 07.00-09.00
    5. Lomba Panjat Pinang:
      9 September 2016 – Pantai Muaro Lasak, jam ,15.00-17.00
    6. Lomba Permainan Anak Nagari (Enggrang, Sepak Rago, Tarompah Tampuruang) :
      8- 9 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    7. Lomba Manggiliang Lado :
      8-9 September 2016- Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    8. Lomba Mangukua Karambia :
      8 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    9. Lomba Malamang antar SMA:
      8 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    10. Lomba Membuat Teh Talua:
      8-9 September 2016- Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    11. Lomba Vokal Grup Lagu Minang Tingkat SMP
      9 September 2016- Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    12. Lomba Sosial Media
      – Lomba Instagram (Foto dan Video)
      – Lomba Blog
      – Lomba Facebook
      – Lomba Twitter
      – Lomba Email Kuesioner
      – Lomba Campaign BBM
      – Lomba Campaign Whatsapp
    13. Lomba Fotografi:
      7-10 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    14. Gathering Komunitas “The Harmony Collaboration”:
      7-10 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    15. Nonton Bareng Film Anak Nagari:
      9 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
    16. Pentas Seni dan Penutupan :
      10 September 2016 – Taman Muaro Lasak (Tugu Perdamaian)
Banyak sekali bukan? Jika teman-teman ada jadwal berkunjung ke Kota Padang, jangan lupa untuk mampir dan ikutan acaranya, akan lebih seru lagi kalau teman-teman bisa ikutan, dijamin deh acaranya makin seru... atau yang mungkin ingin berlibur ke luar kota, liburannya Kota Padang aja… jangan ke kota lain dulu…  hampir selama seminggu acaranya digelar,  dijamin deh liburannya ga akan mati gaya… Dont Miss it ! 




Jumat, Juli 29, 2016

Berlebaran di Rumah Saja



Lebaran sudah menjadi kebiasaaan penduduk Indonesia untuk bersilaturahmi ke rumah sanak, yang hanya mungkin bisa bertemu setahun sekali. Entah karena alasan jarak dan kesibukkan sehari-hari yang menguras waktu. Saling mengunjungi dan bersilaturahmi menjadi moment langka yang hanya dapat dilakukan saat lebaran tiba.

Bagi yang merantau, jauh dari dari keluarga dan kampung halaman, akan melakukan ritual mudik untuk merayakan Idul Fitri bersama dengan keluarga di kampung halaman. Setelah menyelesaikan shalat Idul Fitri, biasanya kita akan saling bersilaturahmi, mulai dari tetangga, sanak-saudara dan teman-teman. Beberapa hari kita akan disibukkan berkeliling ke sana-kemari, dari yang dekat sampai yang jauh dikunjungi. Itulah yang terjadi saat Idul Fitri.

Lain hal dengan keluarga saya. Kita tidak bisa melakukan hal yang sama seperti kebanyakan orang lainnya. Bukan karena kita mengurung diri dalam rumah atau takut dimintai THR ( Tunjangan Hari Raya). Bukan itu. Tapi, memang karena kita menjadi rumah tujuan yang sering dikunjungi oleh sanak-saudara dan famili.

Selesai shalat Idul Fitri, keluarga dekat sampai yang jauh, tetangga dekat sampai yang jauh, famili dekat dan jauh, silih berganti datang ke rumah 3 sampai 4 hari ke depan. Saat lebaran, kita sekeluarga hanya disibukkan menyambut tamu dan melayani tamu yang datang.

Salah satu alasan rumah saya dijadikan salah satu kunjungan terfavorit karena, kita sekeluarga tinggal bersana kakek dan nenek. Suatu bentuk penghormatan juga bagi sanak keluarga untuk mengunjungi orang yang lebih tua. Karena didukung faktor usia dan kesehatan, kakek dan nenek tidak memungkin lagi untuk mengunjungi rumah keluarga lainnya.

Selain itu, di dalam pihak keluarga papa, papa adalah salah satu anggota keluarganya yang bertempat tinggal jauh dari Kota Padang, sehingga rumah kita menjadi destinasi yang paling sering dikunjungi oleh saudara dan ponakan yang jauh-jauh datang dari berbagai daerah, ada yang datang dari Jakarta dan Pekanbaru, dan selain itu, dalam rangka silaturahim juga dimanfaatkan sebagai jalan-jalan.

Kadangkala rasanya ingin juga ikut merasakan suasana mengunjungi rumah keluarga dan kerabat lainnya. Dari tahun ke tahun, kita selalu di rumah. Di rumah lagi, di rumah lagi. Setiap lebaran, tugas membersihkan rumah menjadi berlipat ganda. Rumah jadi cepat kotor, piring dan gelas menumpuk lebih banyak. Ya, begitulah yang dirasa jika lebaran lebih banyak di rumah.

Semua itu bukanlah hal yang terasa membebani. Menjadi rumah tujuan untuk dikunjungi itu adalah suatu hal yang spesial dan berarti. Kelelahan tak terlalu berarti, jika setiap yang datang ke rumah menjadi senang hatinya, enak makannya, dan renyah tertawanya.

Berlebaran juga bukan soal siapa yang lebih banyak mengunjungi, tapi bagaimana bisa mensucikan diri dengan memaafkan diri dan keluarga, tetangga, kerabat atas segala kekhilafan yang terjadi, dan terus berusaha menjadi diri lebih baik lagi agar kembali fitri.

 Jangan lupa datang dan hadiri.... ! 

 Acara: Hari Hijaber Nasional, Pada :
Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat