Rabu, Mei 11, 2016

Yang Pertama










Selalu ada untuk yang pertama ….

Ternyata dalam hidup kita akan selalu mengalami hal/pengalaman pertama. Mulai dari saat kita bayi mungkin bisa sampai tua nanti, kita akan menemukan dan menjalani hal pertama. 

Saat kita menjadi anak-anak, banyak pengalaman pertama yang kita jalani. Pertama kita bisa ngoceh, pertama bisa bicara, bisa telungkup, bisa merangkak, berjalan, berlari, makan, dan masih banyak lainnya dan pertama naksir kamu, iya, kamu...

 Saat kita beranjak remaja kita menjalani hal yang pertama juga, pertama masuk sekolah, pertama pake baju sekolah, Pertama naik sepeda, pertama tidak buat PR, dan masih banyak lagi lainnya bahkan sampai pengalaman bagaimana pertama bekerja, menjadi istri, menjadi ibu, sampai menjadi nenek.

Dalam menghadapi yang pertama, setiap orang menghadapinya berbeda-beda, tak terkecuali  saya.  Saat pertama masuk TK, saya diliputi dengan ketakutan. Saat ditinggal di sekolah, saya menangis melihat nenek pulang. Saat itu saya merasa dunia seolah mau membunuh saya, dunia itu kejam, dan tak ada orang yang mengerti saya sebaik saya mengerti diri saya sendri. Tsaaah

Saat masuk ke SD, ketakutan yang berlebihan sudah mulai berkurang. Tidak se-Ekstrim saat masuk TK. Saya lebih sedikit siap, walaupun ketakutan itu masih ada. Karena kita berada di lingkungan yang baru, suasana baru, teman-teman  baru, guru-guru baru. Ketakutan yang saya rasa lebih kepada bagaimana lingkungan yang baru itu bersikap kepada saya. Ketika masa bersekolah di SD, banyak juga saya mengalami pengalaman pertama. Misalnya pertama kali baca puisi di depan kelas, pertama kali jadi pengibar bendera, pertama kali ikut lomba, dan masih banyak lagi lainnya ...

Saat berada di SMP. Saya kembali mengalami hal yang pertama. Pertama sekolah jauh dari keluarga dalam waktu yang cukup lama, pertama tinggal di asrama, pertama kultum di depan teman-teman dan kakak kelas, dan masih banyak hal pertama yang dialami.

Tak terkecuali juga saat saya memasuki masa-masa SLTA dan kuliah, dan magang.

Ketakutan-ketakutan akan menjalani yang pertama selalu muncul. Kadang ketakutan itu tak selalu sama dengan kenyataan. Ketakutan saja yang muncul berlebihan, yang kadang membuat takut dan keraguan berkumpul menjadi satu. Membuat saya sulit berfikir dan memikirkan hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Saat saya duduk di bangku SD, membayangkan memasuki bangku SMP itu sedikit mengerikan. Apalagi mendengar pengalaman kakak kelas yang sudah duduk di bangku SMP. Bagaimana pengalaman saat mengikuti MOS, bertemu dengan senior yang galak dan suka marah-marah, bertemu guru yang nyebelin, banyak tugas yang membuat waktu bermain jadi berkurang. Oh noo….

Begitu juga saat menginjak bangku selanjutnya … yang ketakutannya tidak jauh berbeda.

Jika saya mengingat pengalaman yang lampau dengan segala ketakutan yang muncul, sekarang saya bisa bersyukur dan sedikit bisa menertawakan diri sendiri. sekarang semua ketakutan saya itu terlihat konyol dan tidak masuk di akal. Mungkin saat itu akal saya belum cukup umur kali, ya? Eh?

Kenapa saya bisa menangis saat ditinggal nenek pulang saat TK?” Toh, saya akan dijemput lagi dan kembali pulang ke rumah

“Kenapa saya ngumpet di bawah meja saat diminta menjadi pengibar bendera?” Akhirnya, saya tidak takut lagi untuk melakukan untuk ke dua kali dan seterusnya…

“ Kenapa saya bisa menangis dan mengatakan Mama tidak menyayangi saya?saat beliau mengantarkan saya bersekolah jauh dari keluarga dan sulit bertemu dalam waktu yang cukup lama”. Padahal, semua itu membuat saya lebih berani, mandiri dan tetap waras dalam menyelesaikan persoalan yang saya alami.

“ kenapa saya begitu takut sekali saat pertama kali naik bus dan membuat saya tidak bisa tidur selama di perjalanan?” Toh, sekarang saya lebih bisa menikmati perjalanan jarak selama di bus.

kenapa saya bisa takut sekali saat diminta berbicara di depan kelas?” Dan, sekarang saya lebih bisa menikmati berbicara banyak di depan umum. Walaupun grogi pasti tetap ada. Hehe

Ya, masih banyak sebenarnya hal pertama yang saya lewati, dan saya berbahagia  bisa melewatinya. Dan bisa mengatakan “ ternyata saya bisa melewatinya juga, ternyata tak seburuk yang dibayangkan”.

Dari semua ketakutan yang saya jalani, saya cukup banyak belajar. Belajar menjadi lebih baik lagi, tetap terus belajar, dan terus memperbaiki kekurangan. Jika pengalaman pertama kurang baik dan banyak kesalahan, pada kesempatan berikutnya kesalahan itu tidak terulang lagi. Cukup satu kali jatah berbuat salah, jangan lakukan untuk kedua kalinya. Teruslah memperbaiki diri. Jangan seperti Keledai mau jatuh ke dua kalinya ke lubang yang sama. Kalau jatuh ke hati yang sama untuk  kedua kalinya, adek mau kok Bang …. Hadeeehh…

Akhirnya, saya menyadari bahwa ketakutan akan sesuatu yang akan datang dan masih di depan mata, tidak perlu terlalu didramatisir dan saya berubah menjadi “drama quen” . itu hanya membuat saya jalan di tempat dan tidak melakukan apa-apa. Bukankah alam semesta ini terus bergerak? Kenapa memilih diam ?


Tak seharusnya saya memikirkan sesuatu yang masih menjadi rahasia. Segala ketakutan itu tidak terlalu penting, jika saya lebih banyak fokus untuk memperbaiki segala kekurangan. Dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Semoga. Aamiin.

Hiduplah untuk hari ini, persiapkanlah untuk hari esok yang lebih baik. Horassss…. salam kuper ...

Jumat, April 22, 2016

Kembali ( Menulis)



Huaa…akhirnya kembali menulis blog yang sudah karatan ini. Sesuatu yang kita sukai, memang sulit untuk meninggalkan dan melupakannya, termasuk kamu ( uhuuk..). Bahagia. Pasti. Cukup hati yang bisa merasakannya. Eciyeee…

Menulis memang tak semudah yang dibayangkan. Bukan soal bagaimana tulisannya, tapi sesuatu yang menggerakkan kita untuk tetap menulis. Apalagi saat kita sedang melakukan rutinitas yang menguras bak mandi  tenaga dan waktu. Banyak sekali alasan untuk menundanya dan pada akhirnya tidak melakukannya. Kaciaan…

Menurut saya  menulis butuh tenaga yang menggerakkannya. Tenaga dari dalam dan dari luar. Kalau bahasa geografinya, tenaga Endogen ( Dalam) dan tenaga Eksogen ( Luar). Kalau mau tau apa itu tenaga Endogen dan Eksogen, tanya saja dengan anak Geografi. Kalau saya mah anak Mama dan Papa. Lha? *random*

Tenaga dari luar (Eksogen) muncul dari luar diri kita sendiri. Apa saja? Bisa dorongan dari teman-teman atau penggemar yang rindu membaca cerita-cerita kita, dari dosen yang memaksa kita harus tetap menulis seperti menulis skripsi dan masih banyak lagi. Kadang kala beberapa teman yang mengetahui saya memiliki blog, diantaranya menanyakan 
"apa kabar blog saya?"
 "Kapan menulis lagi?"
"Ayoo menulis lagi! Kangen membacanya... "

 Apalagi kalau dalam tulisannya ada namanya disebut, itu akan menambah semangat untuk membacanya. Pengen terkenal ni yee…

Menanggapi hal tersebut, saya jadi berpikir, apa segitu besarnya mereka merindukan tulisan saya di blog? Padahal, saya menganggap apa yang tulisan tidak keren-keren banget seperti penulis terkenal, seperti sule dan andre. Eh itu pelawak ya? Maaf, saya pura-pura lupa.

Dan, agar teman-teman dan pembaca saya bisa kembali membaca dan biar senang, saya akan menulis. Bukan karena mau dibilang keren, tapi karena saya ingin menulis. Doakan saja, saya tidak sering mengabaikan blog agar nanti tidak ada yang kecewa. Dan semoga saya bisa menyapa teman-teman dan berbagi lewat kata-kata...

Kalau tenaga dari dalam (Endogen) berasal dari dalam diri kita sendiri. apa saja yang muncul dari diri kita. Apa saja yang menggerakkan. Mungkin saya katakan, bisa disebut semangat. Kekuatan dari dalam diri menurut saya  bisa menggerakan sesuatu perubahan yang lebih besar. Lihat saja, bagaimana perubahan bumi dari milyaran tahun yang lalu. banyak terjadi perubahan besar bukan?

Rabu, Juli 08, 2015

Orang-orang Yang Dalam Pikiran

Sebagai orang yang setiap hari kemana-mana naik angkutan umum, sekali-kali kadang ditebengin. Alhamdu…lillah…*lempar-lempar selendang*. Mulai dari naik angkot, busway, bus kota, travel AJDP (Antar Jemput Dalam Provinsi) bemo, ojek, kalau lagi kaya sekali-kali naik burung biru *benerin jilbab*.

Karena seharian lebih sering sendirian *kode*, iya, kalo sendirian saya lebih suka melihat-lihat dan mengamati hal di sekeliling, kali aja ada cowo ganteng dan keren.

Kalau ada lampu merah, itu tandanya kendaraan semua berhenti. Di sinilah saya suka memanfaatkan momen. Bisa jadi saya tiba-tiba mikirin jemuran, anak tetangga, menikmati lagu yang diputar atau atau sekedar mengamati pengendara motor, sambil mikir keras dan melihat kiri ke kanan banyak pohon cemaraa aaa….Upss salaah…melihat pengendara mobil yang mengkilat, mulus dan ada AC di dalamnya. 

Di sinilah kadang ide random saya keluar, selain di toilet. Jika melihat mobil mengkilat lagi mulus, saya berpikir, oh betapa enaknya orang-orang yang dalam mobil itu, tidak perlu capek-capek naik angkot turun angkot yang kencengnya bisa menyaingi kecepatan cahaya (lebay), tidak sempit-sempitan karena diminta geser-geser ama si abang sopir, tidak akan mendengar musik yang memecah gendang telinga, dan tidak perlu was-was dari pencopet. Itu hanya pikiran saya, saya juga tidak tau apa yang ada dalam pikiran orang yang di dalam mobil melihat saya. Jika mereka melihat saya, bisa jadi mereka memikirkan, perempuan berjilbab itu manis dan keren juga ya…setiap hari naik angkot, pasti dia sudah pacaran ama sopir angkot…Tidaaakk…*pingsan*.

Tapi mungkin apa yang saya pikirkan bisa jadi salah. Mereka yang di dalam mobil mewah itu ternyata tidak seenak dan senyaman yang saya pikirkan. Bisa jadi mereka yang di dalam mobil mewah itu pikirannya stress karena memikirkan ikan asin yang dijemur belum diangkat, kucing peliharaannya tidak pulang-pulang, istri yang malas mandi, kreditan odong-odong belum dilunasi, korupsi 1 karung semen di kantor, atau cemas mikirin handphone belum ganti-ganti sedangkan model baru terus bermunculan, dan masih banyak kecemasan plus pusing yang bergelantungan di pikirannya.

Ya, kita tidak pernah tau, apalagi saya. Orang-orang yang terlihat baik-baik saja, belum tentu baik-baik saja menurut penilaian kita. Jika orang-orang yang duduk di dalam mobil mewah itu keliatan tenang-tenang saja, pikiran dan hatinya belum tentu seperti itu. Mungkin ya. Semoga aja saya salah. Dan Anda benar.

Sepertinya, banyak hal yang tidak kita ketahui di luar diri kita sendiri. bahkan, kadang diri kita sendiri pun sulit untuk dimengerti dan dipahami.

Mungkin hidup emang harus begitu, setiap kita memiliki pening masing-masing dan terus berjuang menyelesaikan setiap pening yang datang menghadang. Semoga setiap pening yang datang tidak pernah membuat kita kehilangan akal dan kehilangan iman. 
Selamat bobo. Muaahh…1000x


Jangan lupa sahur, yaa…kalau lupa, jangan salahkan saya yaa… kan udah diingetin….

Selasa, Juni 30, 2015

Ramadan Menyuruhku Pulang

Ibarat menunggu pujaan hati yang datang, seperti itu yang saya rasakan saat menyambut kedatangan bulan Ramadan. Ada rasa bahagia menyambut kedatangannya. Seperti yang kita ketahui begitu banyak keutamaan pada bulan tersebut. Dan yang paling penting, karena saya masih diberi kesempatan kembali oleh Tuhan berada di bulan Ramadan seperti tahun yang lalu. Semoga setiap Ramadan yang datang, kita semua bisa mengisinya dengan baik. Aamiin. Duh, kok jadi kayak ceramah begini ya? Sudah lupakan saja!

Setiap bulan Ramadan datang, ingin sekali rasanya lebih banyak melewatinya di rumah.  Tapi kenyataannya tidak. Walaupun begitu, yang penting  saat puasa hari pertama saya berada di rumah. Sudah seperti kewajiban, setiap puasa pertama saya harus melewatinya di rumah. Saat seperti ini kita sekeluarga bisa berkumpul tanpa terkecuali, kecuali kalo lagi absen (lha?). Walaupun pada puasa berikutnya, kita akan kembali menjalankan rutinitas seperti biasa, saya harus wara-wiri dari mesjid ke mesjid, ngapain? Jagain sandal jamaah tarawih. Puass?


 Maksudnya, saya kembali ke kosan, adek-adek pun begitu. Dan kita akan bertemu kembali di akhir Ramadan menjelang Idul Fitri. Tidak melewati sahur pertama di rumah, rasanya itu seperti menyelam tidak minum air. Kurang greget kalo orang keren bilang.


Ada satu hal yang tak pernah berubah dari sejak saya mengenal bulan Ramadan, dimana pada bulan tersebut umat muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Sahur pertama dan berbuka pertama di awal Ramadan, Mama selalu menghidangkan rendang padang untuk kita santap sekeluarga. Maklumlah, sebagai  orang yang darah minangnya kental sekali. Rendang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kehidupan, apalagi rendang padang sudah mendunia . Tinggal saya aja orang padang yang belum mendunia ( mari abaikan!).

Jika melewati Ramadan di rumah, banyak hal menarik yang saya lewati. Mulai dari bangun untuk sahur. Sebuah cobaan berat yang dilalui untuk memulai sahur. Biasanya saat waktu makan sahur, saya masih mimpi cantik dan ngiler, eh tiba-tiba dibangunin. Dibangunkan untuk sahur itu bagaikan membangunkan macan yang lagi tidur. Kalau tidak pandai-pandai bisa-bisa kena gigit…Grrr…

Biasanya, saat sahur Mama adalah orang yang pertama bangun. Sambil menyiapkan hidangan sahur di dapur. Mama terus berkicau supaya saya dan adek-adek bangun dan segera keluar dari kamar. Kalau  Mama sudah sering bolak-balik masuk kamar dan mencolek-colek badan kita, jika itu gagal membuat kita bangun. Mama lebih memilih makan duluan sambil menakut-nakuti dan mengatakan 
 “ 5 menit lagi imsak…5 menit lagi…”.
 Itu sebuah kata-kata pamungkas dari Mama, yang membuat kita akan bangun secepat kilat dan menahan godaan gaya tarik kasur yang begitu menggoda. Berbeda dengan Papa. Kalau membangunkan kita Papa biasanya suka menarik-narik jempol kaki sambil disembur mburrr…dan menyalakan lampu kamar, itu akan membuat mata saya pedih, dan akhirnya menarik selimut. Bobo cantik lagi aah…

Lain lagi, jika kakek yang membangunkan, kakek akan mengendor-gendor pintu kamar sambil teriak
 “ sahur..sahur…”
 pintu kamar serasa mau runtuh. Andaikan pintu bisa ngomong, pasti ia akan meminta pensiun dini menjadi pintu kamar saya, karena tidak kuat di gedor-gedor terus setiap mau sahur. Yang sabar ya pintu…( elus-elus pintu).

Jika sudah selesai makan sahur, sambil menunggu waktu imsak . Biasanya Saya menyediakan satu gelas air,yang nanti air itu akan diminum saat sirene panjang berbunyi menandakan imsak. Ketika sirene berbunyi, saya dan adek-adek berhambur dan berebutan gelas yang sama.  Jika diperhatikan ketika kita menyerbu gelas yang sama, kita seperti macan yang sudah seminggu tidak makan. Serem ya? Walaupun pada akhirnya, kita hanya mendapatkan jatah satu atau dua teguk.


Ya, begitulah keseruan kalau melewati Ramadan di rumah yang selalu dirindukan ketika jauh dari rumah. Jika sudah di kosan, beberapa kali sahurnya suka kelewatan.  Bangun-bangun udah azan subuh. Kasihan.

Rabu, November 05, 2014

Lama Sudah

Oh begini rasanya, lama sudah tak menulis. Menulis blog maksudnya. Menulis untuk yang satu itu tetap lancar. Sttsss...RHS....

Ada rasa kangen merangkai kata-kata tanpa  aturan baku yang sedikit mengikat. Kata-kata terus mengalir bebas. Sekarang, saya binggung mau menulis darimana. Hahaha

Ya udah ya...yang penting tetap lanjut tidurnya, eh nulisnya....
Saat kita berhenti melakukan hal-hal yang kita sukai dan dilakukan dengan senang hati. Itu kalau kata artis dangdut yang lagunya lagi “Hits” sekarang, “ sakitnya tuh disinih”...hahaha...lebay bingits yah?

Sudah, Lupakan.

Sebenarnya bukan berhenti, hanya saja cuti alias istirahat sejenak. Mungkin ini bisa disebut dengan pengorbanan. Istirahat sejenak melakukan hal yang disenangi demi skrip.... Eh...*tutupmulut*

Sebenarnya, saya ini termasuk jenis spesies (Manusia) yang suka sekali bercerita dan mendengar cerita, apa saja. Dari hal serius sampai yang ga jelas yang bisa bikin perut mules. Hihihi. Bahkan, waktu kecil saya terbilang anak yang cerewet. Hihihi. Jadi malu. Kalau sekarang udah enggak, enggak kalah cerewet maksudnya. Upss *abaikan*. Maklumlah, ya...ibuk-ibuk *benerin jilbab*.


Kelihatannya, saya makin ga jelas. Mungkin lebih baik, saya akhiri sampai disini. Muaah...muaah...*pelukpembacasetiablogsaya*

Rabu, Juni 11, 2014

Pilihan Yang Harus Dipilih

Holla...

Akhirnya, saya bisa menyapa kembali teman-teman semuanya. Duh, senangnya...*bersihin sarang laba-laba di blog*
Tak tau saya harus nulis darimana. Bagusnya darimana ya? Dari Sabang sampai Merauke aja kali, ya?

Kata orang-orang bijaksana dan bijaksini, Hidup itu pilihan. Iya, semuanya harus dipilih. Termasuk pilihan memilih untuk tidak memilih, mungkin karena saking banyaknya pilihan, jadi binggung apa yang harus dipilih.

Ingat, ya...ini gak ada hubungannya dengan pemilihan presiden bulan depan.  Karena, saya sudah memutuskan untuk memilih, kamuu #uhuukk

Oke, kembali kepada pilihan *Muter lagu syahrini feat Anang* ( Jangan memilih akyu...bila tak sanggup setiaaa.....aaa.....)

Alkasih, eh alkisah pada suatu hari. Tapi saya lupa hari itu hari apa. Saat itu saya terburu-buru, walupun sebenarnya ga ada yang memburu. Dalam waktu 1,5 jam, saya harus agar segera  sampai di kantor pos terdekat untuk  membayar tiket pesawat, kalau tidak segera dibayarkan, tiket tersebut akan hangus. Motor pun tak ada di rumah dan emang saya ga bisa bawa motor juga. Hahaha...ciyan deh gue...-__-

Saya pun memutuskan untuk menggunakan angdes (Angkutan Desa), saat itu emang saya lagi di kampung. You know lah, ya..angdes tak sebanyak angkot yang ada di Kota Padang, yang bisa lewat tiap menit dan bisa memilih mau naik yang mana. Kalau di kampung, butuh kesabaran lebih untuk menunggu angdes lewat.

Sesampai di kantor pos, ternyata kantor pos terdekat belum bisa online untuk melakukan pembayaran tiket pesawat. Alaamaak...*tepuk jidat tetangga*. Waktu masih tersisa lebih kurang 1 jam lagi untuk melakukan pembayaran dari waktu pemesanan.
Bener-bener the power of kepepet. Secepat mungkin saya langsung meninggalkan kantor pos tersebut dan segera menunggu angdes menuju kantor pos pusat kecamatan. Tanpa perlu pikir panjang, saya langsung menaikki angdes yang lewat pada saat itu, dan mengantarkan saya sampai di tujuan.

Berhubung penumpangnya sedikit, angdes yang saya tumpangi berjalan dengan sangat lambat, sekalian menyari penumpang sih. Saya yang buru-buru, rasanya pengen nyium bapak sopir biar jalannya ngebut. Saya terus memperhatikan detak jarum jam, jangan sampai berhenti berputar. Lha?

Di tengah perjalanannya, angdes yang saya tumpangi disalip oleh angdes yang di belakang dan melaju dengan kencang. Uhfff...*tarik napas dalam-dalam*. Saya langsung menyalahkan diri sendiri sambil ngedumel dalam hati.

Iiih...Kenapa saya gak cukup sabar menunggu angdes yang tadi....udah bagus, ngebut lagi...!
Kalau naik angdes tadi, pasti saya akan lebih cepat sampai....!

Saya hanya bisa garuk-garuk muka sendiri dan terus berharap angdes ini berjalan lebih cepat. Kalau sudah begini, saya hanya berdamai dengan apa yang saya pilih.

Jarak kantor pos cabang dengan kantor pos pusat sekitar 7 KM, kalau di tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, bisa cepat sampai. Tapi apa daya, saya tak punya jet pribadi...huhuhu

Dan ternyata...ternyata...saat saya melewati Pom Bensin, angdes yang telah menyalip angdes yang saya tumpangi lagi ngantri di pom bensin. Saya hanya bisa bersyukur dan tersenyum lega dan bergumam dalam hati...

andai saya naik angdes yang ngebut tadi, pasti saya belum tentu sampai tepat waktu.....

Lagi...lagi...Saya hanya bisa tersenyum lega dan bersyukur sekali pada menit-menit terakhir saya bisa melakukan pembayaran tiket tersebut.

Pilihan emang selalu membuat binggung, yang bisa dilakukan adalah yakin atas pilihan yang telah dipilih. Percayalah setiap pilihan ada kuasa Tuhan di dalamnnya. Tsaah *sok bijaksana dan bijaksini*.
Sekian dan aura kasih...:D

Jumat, Maret 21, 2014

Yang Penting Nulis

Iseng-iseng mengubek-ngubek postingan lama yang udah lama gak diperhatikan. Senasib dengan mantan..majikan. Akhirnya, mereka pun berhasil mencuri perhatian saya. Bener-bener membuat saya malu ama diri sendiri dan bertanya kepada diri yang alfa ini.

Kok bisa saya menulis begitu ya?
Iih..parah banget tulisannya..! 
Siapa sih yang nulis begini? Bikin malu dunia persilatan aja.*nampar-nampar pipi*.


Ini serius teman’s

Betapa banyak kesalahan yang saya dalam menulis. Jaman sekolah, Bahasa Indonesia salah satu mata pelajaran yang disukai. Kadang teori emang gak semudah mempraktikkannya. Dan terlalu banyak menghafal teori, kita tidak pernah tau salahnya dimana.

Gak perlu jauh-jauh mengubek-ubek postingan saya yang lama. Ini saya kasih lihat contoh tulisan terparah yang pernah saya buat. Hahaha *ngumpet di balik bantal*.



Tulisan itu dengan bangganya saya publish di blog. Gak tau malu bin malu-maluin banget kan, saya?. Hihihi.
Anak esde aja, pasti bisa mengoreksi kesalahan tulisan saya diatas.

Dulu..iya dulu..tulisan itu sudah terlihat keren dan oke buat diposting di blog. Semakin banyak belajar dan makin banyak makan tau, membuat saya merasa tulisan saya gak kalah jeleknya dari tulisan anak es-de. Hiks.

Mungkin itu lah yang disebut menulis itu proses. Proses membuat salah dan terus belajar.
Semangka Water Melon..Keep Writing...Ting..*kedip-kedip*.



Jumat, Maret 07, 2014

Maju Kena Mundur Kena

Sekarang udah tanggal 7 bulan 3 aja, ya? Bulan baru sudah lewat, dan saya belum menulis postingan baru di blog. Halaah..keliatan kalau saya pemala....*teks hilang*

Saya adalah makhluk tuhan yang paling sexy..suka banget bercerita. Kadang  ada aja yang mau diceritain. Walaupun ujungnya, suka tertawa gak jelas. Kadang menertawakan diri sendiri. Hahaha *mulai gila*

Saking suka cerita pake bingit *ngikut gaya ABG*, saya lupa darimana memulai ceritanya. Hasyeemm...*dilempar galon*.

Kalau kamu duluan yang cerita gimana? *kedip-kedip brondong* *ganjennya kumat*.
Begini ceritanya...


Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba angkot yang saya tumpangi bisa terbang dipukul dari belakang..
Prok..prok..
bukan..bukan...pokoknya ya gitu deh bunyinya...

Saya yang lagi asyik curi-curi pandang ama pak sopir menikmati makanan yang dijajakan pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan. Emang bikin lapar mata. Perut saya melambai-lambai minta diisi *itu perut apa nyiur ya?*

Angkot yang saya tumpangi sudah cukup lama terjebak macet di pasar raya. Angkot belum bisa bergerak dan segera move on. Masih ngetem disitu-situ aja. Sampai-sampai saya jenggotan. Ibaratnya, seperti  seorang yang sudah putus dengan pacarnya, tapi belum bisa melupakan kenangan indah bersamanya. Pedihhh..*nangis darah*

Setelah di pukul beberapa kali, angkot maju sedikit ke depan. Sepertinya nyari tabrakan beruntun dan mengenai angkot yang di depan. Mendadak, langsung saja sopir angkot yang di depan keluar dan marah-marah. Saya menjadi terkejut. Kayaknya si bapak sopir itu lagi dapet deh..sensitif amat jadi orang, amat aja gak sensitif.

Biar gak susah mikirnya. Kita sebut saja mawar, nama abang sopir angkot yang saya tumpangi. Sopir angkot yang di depan saya, melati. Abang sopir angkot yang dibelakangnya, sebut saja Anggrek. Jadi, posisi angkot yang saya tumpangi berada di tengah-tengah. Antara angkot abang melati dan abang anggrek. Kebayang kan? Enggaakkk...Grrrrr....

Karena, angkot abang mawar sudah dipukul dari belakang. Bang mawar sedikit memajukan angkotnya ke depan. Saya kurang tau persis gimana kejadiannya. Sepertinya, angkot bang mawar sedikit mengenai angkot bang melati. Tergores sedikit. Dan..dan..bang melati langsung membuka pintu angkotnya, langsung keluar dan menghampiri bang mawar.

Bang melati langsung marah-marah gak jelas. Kayak mau ngajak berantem. Syukur bang mawar gak cepat naik darah, dan tetap bisa kalem walau diajak berantem..assiikk...

Saya yang berada di dalam angkot udah parno duluan, jangan sampai bang melati dan bang mawar main jambak-jambakan mirip ibu-ibu komplek.
Andai saja, bang anggrek bisa sedikit bersabar di tengah kemacetan. Tentu saja ini tak kan terjadi. Sudah jelas macet, malah pengen jalan duluan. semut aja numpang lewat susah. Apalagi gajah. Lha??


Sepertinya, kemacetan dapat menganggu kelabilan ekonomi emosi seseorang.